CERITA RAKYAT LOMBOK

Rabu, 13 April 20110 komentar

CERITA  RAKYAT LOMBOK DENDE CILINAYE

Pada jaman dahulu kala adalah dua raja bersaudara. Seorang menjadi raja di Daha dan seorang lagi di keling. Kedua raja ini belum juga mendapat putra. Berbagai tabib dan dukun sudah mencoba untuk mengobati raja. Tak ada yang berhasil. Kemudian kedua raja itu pergi bernazar ke sebuah permujaan di puncak bukit. Pemujaan itu bernama Batu Kemeras. Raja Keling bernazar kalau ia dikaruniai anak ia akan datang lagi membawa sirih pinang ke batu kemeras itu. Sedangkan raja daha bernazar akan memotong kerbau berselimut sutera bertanduk emas berkuku perak.

Alkisah dengan izin Tuhan terkabullah hajat kedua raja itu. Raja Daha di karuniai anak wanita sedangkan raja keeling di karuniai anak lelaki. Anak raja Daha sangat cantik wajahnya begitu pula anak raja Keling sangat tampan. Maka sampailah saatnya mereka akan membayar nazarnya. Rja Keling datang ke pemujaan Batu Kemeras. Meskipun ia Cuma berjanji akan membawa sirih pinang, tetapi ia membawa kerbau bertandu kemas berkuku perak dan berselimut kain sutera. Raja Daha yang dahulu memasang nazar besar ternyata tak memenuhi janjinya. Ia datang Cuma membawa anak kerbau biasa.

Setelah selesai upacara membayar nazar, pulanglah kedua raja itu ke negerinya masing – masing. Arkian ditengah perjalanan Raja Daha, datanglah angin putting beliung yang sangat deras. Putrid Raja Daha diterbangkan angin ke angkasa. Sangat sedih hati Raja dan Permaisuri. Para inang pengasuh dan pengiring lainnya menangis melolong lolong sambil membanting dirinya. Raja Daha meratap dalam syair tembangnya :

“Wahai anakku sibiran jiwa, buah hati permainan mata, hanya engkaulah tumpuan hatiku, kini menjadi korban angin. Mengapa anakku jadi begini, puspa mata di terbangkan angin, tetapi bila takdir menghendaki, kelak pasti brjumpa lagi”.

Semakin jauh bayi wanita anak raja Daha diterbangkan angin . ia melewati padang dan bukit. Akhirnya terjatuh pada sebuah taman. Taman itu dijaga oleh sepasang suami istri yang mandul. Namanya Pak Bangkol dan Bu Bnagkol.

Pada waktu pak Bangkol pergi berkeliling memeriksa taman ditermuinya bayi wanita itu tergeletak di tepi telaga. Sangat terkejut bercampur gembira hati pak Bangkol. Bayi utu dibawanya pulang, isterinya sangat senang mendapatkan bayi wanita itu karena sudah lama ia ingin mempunyai anak. Anak wanita itu diberi nama Cilinaya.

Ringkas cerita Cilinaya dipelihara oleh Pak Bangkol dan Bu Bangkol d taman itu. Diajarkannya berbagai keterampilan wanita seperti memasak, menenun, menyulam dan merangkai bunga. Cilinaya tumbuh menjadi gadis remaja yang luar biasa cantik. Selain cantik jelita ia juga cerdas.

Pada suatu hari datanglah berita bahwa sang pangeran putera Raja Keling waken datang untuk berburu di hutan perburuan. Rombongan pengeran dari KEling itu akan singgah di taman. Pangeran itu bernama Raden Panji. Pada hari ia datang, itu cepat cepat ibu Bangkol menyembunyikan Cilinaya di dalam buluh terudak benang.  Inaq BAngkol dan Pak Bangkol menyambut sang pangeran dengan penuh hormat dan ramah tamah. Setelah duduk berkatalah sang pangeran :

“Bu, saya datang kemari karena saya bermimpi bahwa ibu mempunyai seorang anak gadis yang sangat cantik. Kecantikan anak itu melebihi kecantikan bidadari di kayangan. Tak seorangpun putrid raja dimuka bumi ini yang menyamai kecantikan anak gadis ibu itu. Bu mana dia aku ingin bertemu dan akan kujadikan istriku.”

Pucat pasi wajah bu Bangkol mendengar ucapan pangeran itu. Ibu Bangkol lalu berkata :

“Tuanku Pangeran ketahuilah hamba tak punya anak wanita. Apalagi yang cantik seperti kata tuan tadi, kalaupun tuan tak percaya periksalah rumah hamba ini”.

“ha …..ha….ha…..jangan ibu berbohong. Akan ku periksa rumah ibu dan kalau kudapatkan ia pasti akan ku ambil menjadi istriku. Biar aku bermertua ibu, ha ha ha !”.

Lalu diperiksalah rumah itu oleh pangeran dari keeling itu. Dicarinya kemana – mana, dibawah kolong, d gulungan tikar, dalam gerobak semua tak ada. Raden Panji putus asa lalu keluar dari rumah. Waktu melewati pintu, dengan takdir Allah tersangkutlah sehelai rambut Cilinaya pada gagang keris raden Panji. Rden Panji terkejut lalu dicarinya asal rambut itu dan Cilinaya pun dijumpainya di dalam terudak benang. Raden Panji kawin dengan Cilinaya.

Setelah setahun lamanya tinggal di taman bersama istrinya Raden Panji minta ijin pulang ke negeri Keling. Sampai di Keling ia bercerita kepada ayahnya bahwa ia telah kawin denga Cilinaya anak penjaga taman. Raja Keling sangat kecewa karena putranya telah mengawini anak orang biasa. Diam – diam raja menyuruh algojonya untuk membunuh Cilinaya. Patih algojo pergi ke taman untu menjemput Cilinaya. Pada waktu itu Cilinaya sedang baru melahirkan. Raden panji pura – pura disuruh mencari hati menjangan hijau untuk obat ayahnya, sudah seminggu ayahnya pur a- pura sakit. Begitulah siasat Raja Keling untuk memisahkan Raden Panji dengan Cilinaya.

Patih algojo membawa Cilinaya ke sebuah pantai yang sepi di Tanjung Menangis. Sampai dibawah sebatang pohon ketapang yang rindang berhentilah mereka. Patih algojo menceritakan maksudnya kepada Cilinaya.

“BAiklah paman bila memang demikian kehendak ayahanda prabu Keling, bunuhlah aku sekarang juga. Sebelum paman membunuhkku akan ku petik buah maja untuk mengganti tempat anakku menyusu, dan pesanku bila nanti darahku berbau amis, itulah tanda bahwa aku orang biasa. Bila darahku berbau harum ketahuilah paman bahwa aku juga anak Raja – raja”. Begitulah ucapan Cilinaya sambil berurai airmata.

“Nah cabutlah kerismu paman dan bunuhlah aku. Sampaikan salamku kepada suamiku sang Raden Panji” katanya lagi.

Cilinaya duduk berjongkok sambil memeluk bayinya. Rambutnya dilepas terurai. Ia memandang ke langit sambil berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Maka dibunuhlah Cilinaya di bawah pohon pohon ketapang di Tanjung Menangis itu. Tubuhnya tergeletak ditanah dan muncrat darahnya berbau sangat harum seperti bau kasturi. Sang bayi lelaki anaknya memeluk buah maja yang disangkanya susu ibunya.

Alkisah Raden Panji yang diiringi oleh saudara nya yaitu Raden Irun dan para pengiring sampai pula ke tempat itu. Didengarnya suara tangisan bayi yang sangat memilukan hati. Berlomba – lomba mereka berlari mencari suara tangisan bayi utu. Dan ketika ditemuinya, dilihatnya ada mayat wanita. Raden Panji segera menandai mayat istrinya dari cincin yang dipakainya. Tak terkatakan sedih hatinya, tiba – tiba dari arah langit terdengar suara guruh dan petir sambar menyambar, angina berhembus kencang dan awan hitam tebal menutupi angkasa. Di celah – celah suara petir itu terdengarlah suara ghaib dari langit. “wahai orang yangmalang buatlah peti mayat istrimu dan hanyutkan ia ke laut, kelak tuhan dengan kuasa-Nya akan mempertemukan kalian kembali !”.

Dengan tak banyak berfikir Raden Panji menyuruh Raden Irun dan para pengiringnya membuat peti dari kayu. Peti itu diberi tali sepanjang seribu depa. Setelah selesai lalu dimasukkanlah mayat istrinya kedalam peti. Kemudian peti itu dihanyutkannya kelaut. Raden Panji memegang tali peti itu dan menuntunnya sepanjang pantai.

Lalu datanglah arrus laut dan badai yang sangat hebat, tali penambang peti terputus dan hanyutlah peti mayat itu dibawa arus. Raden Panji berjalan sambil menggendong anaknya yang masih bayi itu. Anaknya lalu diberi nama Raden Megatsih yang artinya “si putus tali kasih”.

Tersebutlah peti mayat itu hanyut sampai negeri Daha, pada saat itu istri raja Daha sedang berpesta ria dipantai. Ketika permaisuri raja melihat ada peti terhanyut segera ia menyuruh prajuritnya untuk mengambil peti itu. Ketika peti dibuka ternyata isinya seorang wanita cantik yang tidur lelap. Kemudian wanita yang tak lain dari Cilinaya yang sudah hidup kembali itu diambil menjadi anak Raja Daha. Segar bugar dan bertambah cantik si Cilinaya sekarang.

Bertahun-tahun telah berlalu, Raja Daha mengadakan pesta besar. Pada pesta itu diadakan sabung ayam dengan taruhan yang amat besar. Para raja dari berbagai negeri dating untuk berjudi sabung ayam itu. Mereka mempertaruhkan wilayah negeri mereka masing – aing. Bukan main meriahnya perta perjudian di kerajaan Daha itu. Tiba – tiba datanglag seorang anak lelaki kecil membawa ayam jago. Bulunya hijau berjengger dan berekor indah. Kokoknya sangat aneh bunyinya : “Do do Panji Kembang Ikok Maya. Ayahku Panji Ibuku Cilinaya”. Semua orang sangat heran mendengar kokok ayam yang sangat aneh itu. Sedangkan Cilinaya mendapat firasat bahwa yang dating itu adalah anaknya, kemudian dilakukan sabungan ayam raja dengan ayam si Megatsih. Sebagai taruhannya adalah separoh kerajaan Daha melawan nyawa si Megatsih.dalam satu gebrakan saja matilah ayam Raja Keling oleh ayam Megatsih. Raja Keling menyerahkan separuh kerajaannya. Kemudian Raden Panji bertemu kembali dengan istrinya si Cilinaya.

Saduran dari Cerita para tetua Suku Sasak
Disadur ke Bahasa Indonensia oleh zal putra smumas

PUTRI MANDALIKA NYALE

Kabupaten Lombok Tengah adalah salah satu daerah Tingkat II di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Di daerah ini terdapat sebuah kawasan wisata pantai yang sangat menarik dan ramai dikunjungi oleh para wisatawan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Kawasan tersebut adalah Pantai Seger Kuta, terletak di bagian Selatan pulau Lombok, kira-kira 65 kilometer dari kota Mataram. Keindahan pantai ini membuat para wisatawan menjadi kagum menyaksikan panorama alamnya. Airnya yang jernih dan tenang menjadikan pantai ini sangat ideal untuk berenang.

Selain keindahan alamnya, Pantai Seger Kuta juga memiliki daya tarik lain yang tidak kalah eksotisnya bagi para wisatawan. Setiap setahun sekali, yaitu antara bulan Februari dan Maret, di tempat ini diselenggarakan sebuah pesta atau upacara yang dikenal dengan Bau Nyale. Kata bau berasal dari bahasa Sasak yang berarti menangkap, sedangkan kata nyale berarti sejenis cacing laut yang hidup di lubang-lubang batu karang di bawah permukaan laut.

Pesta Bau Nyale adalah sebuah peristiwa dan tradisi yang sangat melegenda dan mempunyai nilai sakral tinggi bagi suku Sasak, suku asli pulau Lombok. Keberadaan pesta Bau Nyale ini berkaitan erat dengan sebuah cerita rakyat yang berkembang di daerah Lombok Tengah bagian Selatan, tepatnya pada masyarakat Pujut, sebuah kecamatan yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Lombok Tengah. Cerita tersebut mengisahkan tentang seorang putri yang sangat arif dan bijaksana, namanya Putri Mandalika. Ia adalah putri dari seorang Raja yang pernah memerintah di negeri Lombok. Wajahnya yang elok, tubuhnya yang ramping dan perangainya yang baik, membuat para pangeran dari berbagai negeri berkeinginan untuk memperistrinya. Setiap pangeran yang datang melamarnya, tidak ada yang ditolaknya. Namun, antara pangeran yang satu dan pangeran yang lainnya tidak menerima jika sang Putri yang cantik jelita itu diperistri oleh banyak pangeran. Hal inilah yang akan menimbulkan terjadinya perang antara pangeran yang satu dengan pangeran yang lainnya. Hal ini pulalah yang membuat Putri Mandalika merasa gelisah. Ia selalu termenung memikirkan bagaimana cara agar pertumpahan darah tidak terjadi. Apa yang akan dilakukan Putri Mandalika untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah tersebut? Lalu, pangeran siapa yang berhasil memperistrikan Putri Mandalika? Untuk mengetahui jawabannya, ikuti kisahnya dalam cerita Putri Mandalika: Asal Mula Bau Nyale berikut ini.

* * *

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di pantai Selatan Pulau Lombok, berdiri sebuah kerajaan yang bernama Tunjung Bitu. Kerajaan tersebut diperintah oleh seorang Raja yang bernama Raja Tonjang Beru dengan permaisurinya, Dewi Seranting. Tonjang Beru adalah seorang raja yang arif dan bijaksana. Seluruh rakyatnya hidup makmur, aman dan sentosa. Mereka sangat bangga mempunyai raja yang arif dan bijaksana itu. Raja Tonjang Beru memiliki seorang Putri yang cantik jelita, cerdas dan bijaksana, namanya Putri Mandalika. Di samping cantik dan cerdas, Putri Mandalika juga terkenal ramah dan sopan. Tutur bahasanya sangat lembut. Seluruh rakyat negeri sangat sayang terhadap sang Putri.

Kecantikan dan keelokan perangai Putri Mandalika sudah tersohor ke berbagai negeri, bahkan sampai ke negeri seberang. Para pangeran dari berbagai kerajaan juga telah mendengar berita tersebut. Setiap pangeran yang melihat kecantikan dan keanggunan sang Putri menjadi mabuk kepayang. Seakan telah terjadwalkan, para pangeran tersebut datang secara bergantian untuk melamar sang Putri.

Suatu keanehan pada diri Putri Mandalika. Setiap pangeran yang datang melamarnya, tak satu pun yang ia tolak. Namun, para pangeran tersebut tidak menerima jika sang Putri diperistri oleh banyak pangeran. Maka mereka pun bersepakat untuk mengadu keberuntungan melalui peperangan. Siapa yang menang dalam peperangan itu, maka dialah yang berhak memperistri sang Putri.

Suatu hari, berita tentang akan terjadinya peperangan antara beberapa kerajaan sampai pula ke telinga Raja Tonjang Beru. Sang Raja segera memanggil putrinya untuk membicarakan masalah tersebut. “Wahai, Putriku! Ayahanda mendengar bahwa di negeri ini akan terjadi malapetaka besar. Seluruh pangeran yang pernah datang melamarmu akan mengadakan perang. Mereka bersepakat, siapa yang menang dalam perang itu, dialah yang akan menjadi suamimu,” kata sang Raja kepada putrinya.

“Putri sudah mendengar berita itu, Ayahanda,” jawab sang Putri dengan tenang. “Lalu, apa yang akan kita lakukan agar pertumpahan darah itu tidak terjadi?” tanya sang Raja khawatir. “Maafkan Putri, Ayahanda! Ini semua salah Putri, karena telah menerima semua lamaran mereka. Jika Ayahanda berkenan, izinkanlah Putri yang menyelesaikan masalah ini,” pinta sang Putri. “Baiklah, Putriku!” jawab sang Raja penuh keyakinan.

Setelah berpikir sehari-semalam, sang Putri pun menemukan jalan keluarnya. Pada awalnya, sang Putri berniat memilih salah satu dari puluhan pangeran yang melamarnya sebagai suaminya. Namun, niatnya itu ia batalkan setelah memikirkan resikonya. Jika ia memilih satu di antara beberapa pangeran sebagai suaminya, tentu pangeran yang lainnya merasa iri. Hal ini tentu akan menimbulkan pertumpahan darah. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagi sang Putri. Ia pun memutuskan untuk mengorbankan jiwa dan raganya. Tekadnya tersebut sudah tidak bisa ditawar lagi. Ia sudah siap merelakan jiwanya demi menghindari terjadinya peperangan yang akan memakan korban yang lebih banyak.

Namun, sebelum melaksanakan niatnya, sang Putri harus melakukan semedi terlebih dahulu. Dalam semedinya, ia mendapat wangsit agar mengundang semua pangeran dalam pertemuan pada tanggal 20, bulan 10 penanggalan Sasak), bertempat di Pantai Seger Kuta, Lombok Tengah. Semua pangeran yang diundang harus disertai oleh seluruh rakyatnya masing-masing. Mereka harus datang ke tempat itu sebelum matahari memancarkan sinarnya di ufuk Timur.

Hari yang telah ditentukan tiba. Tampaklah pemandangan yang sangat menarik. Para undangan dari berbagai negeri berbondong-bondong datang ke pantai Seger Kuta. Orang yang datang ribuan jumlahnya. Pantai Seger Kuta bak gula yang dikerumuni semut. Bahkan, banyak undangan yang datang dua hari sebelum hari yang ditentukan oleh sang Putri tiba. Mulai dari anak-anak hingga kakek-nenek datang memenuhi undangan sang Putri di tempat itu. Rupanya mereka sudah tidak sabaran ingin menyaksikan bagaimana sang Putri yang cantik jelita itu menentukan pilihannya.

Pantai Sereg Kuta sudah penuh sesak oleh para undangan. Tak berapa lama, sang Putri yang sudah tersohor kecantikannya itu pun tiba di tempat dengan diusung menggunakan usungan yang berlapiskan emas. Seluruh undangan serentak memberi hormat kepada sang Putri yang didampingi oleh Ayahanda dan Ibundanya serta sejumlah pengawal kerajaan. Suasana yang tadinya hiruk-pikuk berubah menjadi tenang. Seluruh pasang mata yang hadir tercengang kecantikan wajah sang Putri. Tubuhnya yang dibungkus oleh gaun sutra yang sangat halus itu, menambah keanggunan dan keelokan sang Putri. Para pangeran sudah tidak sabar lagi menanti keputusan dari sang Putri. Masing-masing berharap dirinyalah yang akan dipilih sang Putri. Suasana semakin tegang. Jantung para pangeran berdetak kencang seakan-akan mau copot.

Tidak berapa lama, sang Putri melangkah beberapa kali, lalu berhenti di onggokan batu, membelakangi laut lepas. Di tempat ia berdiri, Putri Mandalika kemudian menebarkan pandangannya ke seluruh undangan yang jumlahnya ribuan itu. Rasa penasaran para hadirin semakin memuncak. Mereka semakin tidak sabaran ingin mendengarkan kata demi kata keluar dari mulut sang Putri yang menyebutkan salah satu nama dari puluhan pangeran yang ada di tempat itu sebagai pilihan hatinya.

Setelah pandangannya merata ke arah para undangan yang hadir, sang Putri pun berbicara untuk mengumumkan keputusannya dengan suara lantang dengan berseru, “Wahai, Ayahanda dan Ibunda serta semua pangeran dan rakyat negeri Tonjang Beru yang aku cintai! Setelah aku pikirkan dengan matang, aku memutuskan bahwa diriku untuk kalian semua. Aku tidak dapat memilih satu di antara banyak pangeran. Diriku telah ditakdirkan menjadi Nyale yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal saat munculnya Nyale di permukaan laut.”

Mendengar keputusan sang Putri tersebut, para hadirin tersentak kaget, termasuk Ayahanda dan Ibundanya, karena sang Putri tidak pernah memberitahukan keputusannya itu kepada kedua orang tuanya. Belum sempat Ayahanda dan Ibundanya berkata-kata, tiba-tiba sang Putri menceburkan diri ke dalam laut dan langsung ditelan gelombang. Bersamaan dengan itu pula, angin bertiup kencang, kilat dan petir pun menggelegar. Suasana di pantai itu menjadi kacau-balau. Suara teriakan terdengar di mana-mana. Sesekali terdengar suara pekikan minta tolong. Namun, suasana itu berlangsung tidak lama.

Sesaat kemudian, suasana kembali tenang. Para undangan segera mencari sang Putri di tempat di mana ia menceburkan diri. Tidak ada tanda-tanda keberadaan sang Putri di tempat itu. Ia menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Tak lama kemudian, tiba-tiba bermunculan binatang kecil yang jumlahnya sangat banyak dari dasar laut. Binatang yang berbentuk cacing laut itu memiliki warna yang sangat indah, perpaduan warna putih, hitam, hijau, kuning dan coklat. Binatang itu disebut dengan Nyale.

Seluruh masyarakat yang menyaksiksan peristiwa itu meyakini bahwa Nyale tersebut adalah jelmaan Putri Mandalika. Sesuai pesan sang Putri, mereka pun beramai-ramai dan berlomba-lomba mengambil binatang itu sebanyak-banyaknya untuk dinikmati sebagai tanda cinta kasih kepada sang Putri.

* * *

Cerita rakyat di atas merupakan cerita teladan yang mengandung nilai-nilai moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu nilai moral yang sangat menonjol dalam cerita di atas adalah sifat rela berkorban. Sifat ini tercermin pada sifat Putri Mandalika ketika ia rela mengorbankan jiwa dan raganya demi menghindari terjadinya peperangan antara beberapa kerajaan yang dapat mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa. Ia lebih memilih mengorbankan jiwanya daripada mengorbankan jiwa orang banyak.

Selain itu, cerita rakyat di atas juga merupakan cerita yang telah melegenda di kalangan masyarakat Lombok Tengah yang menceritakan tentang asal-mula upacara atau pesta Bau Nyale (menangkap cacing), terutama di kalangan masyarakat suku-bangsa Sasak. Hingga kini, masyarakat setempat menyelenggarakan upacara Bau Nyale setiap setahun sekali, yaitu antara bulan Februari dan Maret.

Upacara Bau Nyale ini telah menjadi salah satu daya tarik yang banyak ditunggu-tunggu oleh para wisatawan mancanegara. Oleh karena itu, Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Tengah menjadikan upacara Bau Nyale ini sebagai aset budaya yang penyelenggaraannya telah menjadi koor event kegiatan budaya nasional.

Tradisi upacara Bau Nyale yang diwariskan secara turun-temurun oleh suku Sasak ini sudah ada sebelum abad ke-16 Masehi. Pada saat acara Bau Nyale akan dilangsungkan, sejak sore hari masyarakat setempat    beramai-ramai menangkap Nyale si sepanjang pesisir Selatan Pulau Lombok, terutama di Pantai Seger Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Sejak berkembangnya pariwisata, khususnya wisata pantai di Lombok, upacara Bau Nyale selalu dirangkaikan dengan berbagai kesenian tradisional seperti Betandak (berbalas pantun), Bejambik (pemberian cendera mata kepada kekasih), serta Belancaran (pesiar dengan perahu), dan tidak ketinggalan pula pementasan drama kolosal Putri Mandalika. Upacara Bau Nyale tersebut biasanya dihadiri oleh para pejabat daerah setempat hingga Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan bahkan tidak sedikit yang datang dari Jakarta.

Upacara Bau Nyale sudah menjadi tradisi masyarakat setempat yang sulit untuk ditinggalkan, sebab mereka meyakini bahwa upacara ini memiliki tuah yang dapat mendatangkan kesejahteraan bagi yang menghargainya dan mudarat (bahaya) bagi orang yang meremehkannya.

Menurut keyakinan masyarakat Sasak, Annelida laut yang sering juga disebut cacing palolo (Eunice Fucata) ini dapat membawa kesejahteraan dan keselamatan, khususnya untuk kesuburan tanah pertanian agar dapat menghasilkan panen yang memuaskan. Nyale yang telah mereka tangkap di pantai, biasanya mereka taburkan ke sawah untuk kesuburan padi. Selain itu, Nyale tersebut mereka gunakan untuk berbagai keperluan seperti santapan (Emping Nyale), lauk-pauk, obat kuat dan lainnya yang bersifat magis sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Secara ilmiah, cacing Nyale yang pernah diteliti mengandung protein hewani yang sangat tinggi. Di samping itu, Dr. dr. Soewignyo Soemohardjo dalam penelitiannya menemukan bahwa cacing Nyale dapat mengeluarkan suatu zat yang sudah terbukti mampu membunuh kuman-kuman.

Secara sosial-budaya, berdasarkan sebuah survey di kalangan petani Lombok Tengah, bahwa 70,6 persen responden yang membuang daun bekas pembungkus Nyale (daun pembungkus pepes Nyale) ke sawah dapat menambah kesuburan tanah dan meningkatkan hasil pertanian penduduk setempat. Di samping itu, masyarakat setempat juga meyakini bahwa apabila banyak Nyale yang keluar, hal itu menandakan pertanian penduduk akan berhasil.

Namun yang terpenting dalam kegiatan Bau Nyale ini adalah fungsi solidaritas dan kebersamaan dalam kelompok masyarakat di Lombok Tengah yang terus mereka pertahankan, di samping melestarikan nilai-nilai tradisional dan budaya daerah mereka.

Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. puisi kado ulang tahun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger