Karya Nyata KUM

Selasa, 01 Mei 20120 komentar

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang sangat pesat dewasa ini menungkinkan semua pihak dapat mengakses informasi yang melipah dengan cepat dan mudah dari berbagai sumber. Hal ini menuntut semua warga masyarakat mampu memperoleh, memilih dan memilih informasi secara cerdas. Untuk itu diperlukan kemampuan mengenal hal-hal yang berkaitan dengan usaha sendiri berupa kemampuan berusaha yang bersifat paraktis, selanjutnya disebut keaksaraan (literasi) usaha mandiri yang dapat meningkatkan kemampuan membaca, menulis, berhitung, dan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan tarap hidupnya. Kemampuan keaksaraan seperti ini memungkinkan seseorang untuk secara terus menerus mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya sehingga dapat beradaptasi dan bertahan dalam situasi yang selalu berubah dan kompetitif, sekaligus meningkatkan nasionalisme sebagai bangsa Indonesia. Pendidikan keaksaraan merupakan salah satu proses program nasional dengan target menurunkan jumlah orang dewasa buta hurup. Tujuan utama pendidikan keaksaraan adalah membelajarkan peserta didik agar dapat memanfaatkan kemampuan dasar baca, tulis, dan hitung, (calistung) dengan kemampuan fungsionalnya dalam kehidupan sehari hari. Hal ini senada dengan Undang-undang RI No. 25 tahun 1999 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas). ditegaskan bahwa salah satu prioritas utama pembangunan pendidikan adalah mempercepat penuntasan buta aksara melalui program Keaksaraan Fungsional (KF). Program ini dimaksud untuk memberantas buta aksara, kaligus meningkatkan mutu dan tarap hidup warga belajar keaksaraan yang fungsional bagi kehidupan mereka sehari hari. Keaksaraan fungsional harus mengacu pada bagaimana memanfaatkan kemampuan membaca, menulis dan berhitung (calistung) setiap indivisu, guna memecahkan memecahkan masalah serta melaksanakan tugas-tugas atau kewajiban dalam kehidupan sehari-hari. Keaksaraan fungsional mengacu kepada konteks soisial lokal dan kebutuhan khusus dari setiap warga belajar. Sebagai contoh, warga belajar yang hidup didaerah perkotaan, diman disekitarnya terdapat berbagai instansi/lembaga pemerintah dan swasta, serta tersedianya berbagai media informasi baik cetak maupun elektronik, tentu diperlukan program KF dengan penekanan pada kemampuan fungsional yang lebih tinggi seperti belajar tentang akutansi, cara menggunakan telepon, sopan santun berlalu lintas serta hal-hal yang berhubungan dengan dunia perbankan dan lain sebagainya. Namun jika mereka hidup di daerah pedesaan, daerah terpencil atau daerah pedalaman, mungkin yang diperlukan hanyalan bagaimana mereka belajar tenatang menanam padi yanbg baik, cra pemupukan, cara memberantas hama, memelihara hewan ternak dan sebagainya. Karena, daerah-daerah yang memiliki atagori demikian, media informasi tidak sebanyak diperkotaan, pelayanan jasa kadang bersifat informal dan komunikasi banyak dilakukan secara lisan oleh anggota masyarakat. Di masyarakat pedesaan yang masih tradisional, kagiatan program KF diawali dengan upaya membelajarkan masyarakat dalam asfek ekonomi sehingga mereka mampu melakukan fungsi peenyedian sarana produksi, produksi barang, dan pemasaran hasilnya. Sebagi contoh untuk memiliki keterampilan dalam bidang kerajinan tenun tradisonal sasak, maka warga belajar melakukan kegiatan belajar anata lain mengenai pengenalan alat-alat tenun, pemilihan benang yang berkualitas, cara pewarnaan, cara mengerjakan kegiatan tenun, serta cara menghitung biaya produksi dan nilai jual hasil produksinya. Kegiatan belajar tidak hanya mencari informasi, pengetahuan dan keterampilan dari orang luar (tutor) atau dari buku yang menyediakan informasi-informasi tersebut, tapi dapat menggali pengalaman atau dengan mempelajari peristiwa-peristiwa yang telah dialami oleh diri sendiri daan masyarakatnya. Keaksaraan adalah prasyarat untuk memperoleh kemapuan dasar belajar agar siapa pun dapat mencari, memperoleh, menggunakan dan mengelola informasi untuk meningkatkan mutu hidupnya. Oleh karena itu keaksaraan penting dibelajarkan bagi siapapun dari berbagai kolompok kalangan dan usia Hal ini sejalan dengan pembukaan Resolusi Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyatakan bahwa"….Keaksaraan penting untuk memperoleh keterampilan hidup, baik bagi anak-anak, pemuda, maupun orang dewasa, sehingga mereka dapat mengatasi tantagan yang di hadapi dalam hidup mereka dan merupakan faktor yang sangat diperlukan untuk bisa berperestasi secara aktif dalam masyarakat dan ekonomi abad ke 21.". Fakta nenunjukkan bahwa sebagian besar warga Negara Indonesia masih buta aksara, sehingga mereka mengalami hambatan dalam mengakses informasi dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap. Mereka sulit beradaptasi dan berkepotensi dalam situasi yang selalu berubah dan maikin kompetitif. Akibat selanjutnya masyarakat paska pendidikan keaksaraan dasar pada umumnya sulit keluar dari jerat kebodoahan, kemiskinan, keterbelakangan, dan ketidakberdayaan. Sampai tahun 2009 terdapat 9.763.256 orang atau 5.97 % penduduk usia 15 tahun ke atas yang masih buta aksaara, sebagaian besar 6.248.484. orang atau 7.51 % adalah perempuan dan laki-laki 3.514.772 orang atau 4.27 % penduduk dewasa (15 Tahun ke atas) yang tidak dapat membaca dengan sendirinya kurang mempunyai harapan yang cerah karena tidak mempunyai keterampilan untuk menghadapi tantangan dan mencari penyelesaian terhadap permasalahan-permasalahan dalam kehidupan orang dewasa. Oleh karena itu, setiap warga masyarakat pasca pendidikan keaksaraan dasar perlu memikiki kemampuan Keaksaraan Usaha Mandiri yang fungsional bagi peningkatan kualitas diri dan kehidupannya. Dengan kata lain, setiap warga masyarakat perlu memiliki kompetensi keaksaraan tertentu yang dapat membantu dirinya untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki untuk mengembangkan keterampilan usaha mandiri. Kondisi ini telah mengakibatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia tergolong rendah. Untuk menentukan Indiks pembangunan manusia (IPM) suatu Negara, United Nations Development (UNDP) menerapkan angka keberaksaraan sebagai variable penting dari indeks pendidikan, di samping rata-rata sekolah. Oleh karena itu pemerintah berupaya mengurangi jumlah penduduk buta aksara usia 15 tahun ke atas tersebut diantaranya melalui program pemberantasan buta aksara dan keaksaraan Usaha mandiri. Penyelenggaraan KF di Provinsi Nusa Benggara Barat merupakan salah satu upaya dalam mengejar target penuntasan buta aksara untuk Provinsi NTB pada tahun 2010 untuk kelompok usia 15 tahun ke atas dari jumlah penduduk buta aksara NTB sebesar 316.200. Hal ini memerlukan perhatian yang penuh guna nenindak lanjuti intruksi Presiden No 5 tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Penuntasan Wajib Belajar Sembilan Tahun dan Penuntasan Buta Aksara. Pada tahun 2009 Pemerintah NTB melalui kebijakan Gubernur NTB mencoba menerapkan model pembelajaran KF pola 32 hari yang dicanangkan/diluncing secara serentak diseluruh kabupaten/kota se Nusa Tenggar Barat bertempat di Kecamatan Pringgasela. Hal ini dimaksudkan guna untuk mendongkarak IPM NTB. Dengan adanya terobosan tersebut, kita berharap penyelenggaraan penadidikan keaksaraan ini akan memberikan dampak yang sangat signifikan, sehingga pelaksanaannya membuahkan hasil yang memuaskan baik dalam penyelenggaraan program maupun prosese pembelajaran. Maka dimasa mendatang akan menjadi tolok ukur dalam penyelenggaran program-program pendidikan Keaksaraan Fungsional (KF). Di Kecamatan Pringgasela pada tahun 2009 telah dibelajarkan sebanyak 6.000 warga belajar dan 1.700 waraga belajar ada di desa Pringgasela dan sisanya dibelajarkan di tiga desa yaitu, desa Rempung, jurt, desa Pengadangan. Dari 1.700 Warga belajar yang ada di desa Pringgasela 450 Warga belajar (45 Kelompok ) ditangani oleh PKBM Smumas Pringgasela dan sisanya ditangani oleh lembanga- lembaga kemasyarakatan yang tersebar di desa Pringgasela yang dibelajarkan lewat program KF dasar pola 32 Hari, Sehingga tahun 2009 Kecamatan Pringgasela dinyatakan tuntas dari bukat aksara (Keaksaraan Fungsional Dasar). Kenyataan dilapangan Dari 450 orang (45 kelompok) yang telah dibelajarkan oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) SMUMAS Pringgasela, baru hanya 20 orang (2 kelompok) yang sudah dilanjutkan pembelajarannya ke Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) pada tahun 2010, bekerjasama SKB Lombok Timur. Berbagai upaya dan trobosan yang dilakukan PKBM Smumas Pringgasela untuk mengupayakan tindak lanjut dari program ini diantaranya dengan mengajakuan proposal baik pusat maupun daerah. Di dalam menangani KUM berbagai masalah dan tantangan muncul, baik yang terkait kondisi internal warga belajar, maupun system pembelajaran serta penerapan metode yang akan digunakan. Kondisi tersebut, menutut adanya sumber daya manusia, kecakapan, kualifikasi, dan kompetensi dan perilaku seorang tutor yang lebih baik. Bagaimana cara memotivasi warga belajar untuk belajar. Bagaimana tutor membangkitkan partisipasi warga belajar sehingga dapat mengembangkan potensi individunya secara oftimal. Upaya meningkatkan keberhasilan pembelajaran, merupakan tantangan yang selu dihadapi oleh setiap orang yang berkecimpung dalam profesi keguruan dan kependidikan. Banyak upaya yang telah dilakukan, banyak pula keberhasilan yang telah dicapai, meskipun disadari bahwa apa yang telah dicapai belum sepenuhnya memberikan kepuasan sehingga menuntut renungan, pemikiran dan kerja keras untuk memecahkan masalah yang dihadapi. .Dengan memperhatikan hal tersebut, tutor dapat menetapkan kegiatan yang dianggap efektif dan efesien dalam mencapai suatu tujuan. Untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran sesuatu materai pembelajaran perlu dipikirkan metode pembelajaran yang tepat. Metode pembelajaran ini disamping disesuaikan dengan materai tujuan pembelajaran, juga ditetapkan dengan melihat kegatan yang akan dilakukan. Metode pembelajaran sangat beraneka ragam. Dengan mempertimbangkan apakah suatu metode pembelajaran cocok untuk mengajarkan materi pembelajaran tertentu. Tutor dapat memilih metode pembelajaran yang efektif untuk mengantar warga belajar mencapai tujuan. Oleh karenanya penulis mencoba mengangkat sebuah permasalahan dengan judul : " Penerapan Metode Latihan dan Praktik pada Pembelajaran Pengembangan Usaha Kerajinan Tenun Tradisional Sasak pada Warga Belajar Keaksaraan Usaha Mandri di PKBM SMUMAS Pringgasela Lombok Timur." B. Rumusan Masalah Rumusan Masalah dalam karya nyata ini adalah sebagai berikut "Bagaimanakah Efektivitas Penerapan Metode Latihan dan Praktik pada Pembelajaran Pengembangan Usaha Kerajinan Tenun Tradisional Sasak pada Warga Belajar Keaksaraan Usaha mandri di PKBM SMUMAS Pringgasela Lombok Timur ?" C. Tujuan Penulisan karya nyata ini bertujuan mendeskrifsikan dan menyebarluaskan efektivitas penerapan metode latihan dan praktik pada pembelajaran pengembangan usaha kerajinan tenun tradisional sasak pada warga belajar Keaksaran Usaha Mandri di PKBM SMUMAS Pringgasela Lombok Timur. D. Manfaat Karya tulis ini diharapkan memberikan manfaat untuk: 1. Meningkatkan mutu dan hasil program pembelajaran pendidikan Usaha mandiri. 2. Membantu tutor dalam mengatasi masalah pembelajaran pada KUM 3. Meningkatkan sikap profesionalisme tutor dan menumbuh kembangkan sikap proaktif dalam menumbuh kembangkan mutu Pendidikan Luar Sekolah (PLS). 4. Meningkatkan pengembangan usaha keterampilan kerajinan tenun tradisional sasak pada warga belajar Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM). . BAB II LANDASAN TEORI A. Konsep Dasar Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) Keaksaraan Usaha Mandiri merupakan kemampuan atau keterampilan dasar usaha yang dilatihkan melalui pembelajaran produktif dan keterampilan bermatapencaharian yang dapat meningkatkan keaksaraa dan penghasilan peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok sebagai salah satu upaya penguatan keaksaraan sekaligus pengentasan kemiskinan. Keaksaraan Usaha Mandiri merupakan kelanjutan dari program keaksaraan fungsional yang didalamnya lebih diprioritaskan pada keterampilan. Warga Belajar tidak hanya bisa menulis,membaca, berhitung, mendengar, berbicara menggunakan bahasa Indonesia secara fasih, Warga Belajar dibekali juga pengetahuan agama. Program Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM), merupakan kegiatan peningkatan kemampuan keberaksaraan bagi warga belajar yang telah mengikuti dan atau mencapai kompetensi keaksaraan dasar, melalui pembelajaran keterampilan usaha (kewirausahaan) yang dapat meningkatkan produktivitas warga belajar, baik secara perorangan maupun kelompok sehinggga diharapkan dapat memiliki mata pencaharian dan penghasilan dalam rangka peningkatan taraf hidupnya. Program Pendidikan Keaksaraan Fungsional merupakan salah satu bentuk pelayanan pendidikan luar sekolah untuk membelajarkan warga menulis, membaca, berhitung dan menganalisis yang beorientasi pada dilingkungan sendiri atau sekitarnya. Strategi pembelajaran pada program pendidikan Keaksaraan Fungsional terdiri dari lima langkah kegiatan yaitu Ca-lis-tung-dasi (membaca, menuslis, diskusi dan aksi). Langkah langkah kegiatan tesebut bukan bararti langkah yang berurutan, tatapi bisa saja dilakukan secara acak, misalnya dimulai dari diskusi kemudian belajar membaca/menulis dan seterusnya. Hal ini tergantung dari situasi dan kondisi serta kesepakatan didalam kelompok belajar. Namun demikian kebiasaan yang dilakukan adalah melalui diskusi terlebih dahulu, baru kemudian dilanjutkan dengan kegiatan-kegitan yang lainnya. Bisa juga dimulai dari masalah yang ditemui warga belajar, kemudian didiskusikan dikelompok belajar, kemudian menulis, membaca dan berhitung. Berdasarkan pendekatan yang digunakan, secara umum ada dua strategi pembelajaran yaitu strategi yang berpusat pada guru (teacher centre oriented) dan strategi yang berpusat pada peserta didik (student centre oriented). Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru menggunakan strategi ekspositori, sedangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada warga belajar menggunakan strategi diskoveri inkuiri (discovery inquiry). Pemilihan strategi ekspositori atau diskoveri inkuiri dilakukan atas pertimbangan karakteristik kompetensi yang menjadi tujuan yang terdiri dari sikap, pengetahuan dan keterampilan, serta karakteristik warga belajar dan sumber daya yang dimiliki. Oleh karena itu tidak ada strategi yang tepat untuk semua kondisi dan karakteristik yang dihadapi. Tutor diharapkan mampu memilah dan memilih dengan tepat strategi yang digunakan agar hasil pembelajaran efektif dan maksimal. Pendekatan andragogy adalah merupakan dasar dalam penyelenggaraan proses pembelajaran dengan peserta didik yang terdiri dari para orang dewasa.Program pendidikan keasaraan Fungsional yang merupakan salah satu layanan pendidikan dengan sasaran didik rata-rata berusia dewasa (15-44 tahun) dalam kegiatan pembelajaran selain harus memperhatikan pendekatan andragogi sebagai landasan dasar pembelajaran, tentnya harus juga menggunakan motode pembelajaran yang sesui dengan karakter orang dewasa Efektivitas kegiatan belajar sangat tergantung pada kemampuan tutor dan memotivasi, mengarahkan dam membimbing warga belajar didalam kegiatan belajarnya. Pengalaman menjukkan bahwa kegiatan menulis perlu didahulukan dari pada kegiatan membaca, karena melalui kegiatan menulis warga belajar sedikit-demikisedikit langsung belajar membaca, sebaliknya apabila warga belajar didahulukan belajar membaca, maka cenderung kurang terampil dalam menulis. Namun demikian tidak berlaku mutlak Dalam pembelajaran Keaksaraan Usaha Mandiri terdapat empat prinsip untama yang perlu dipahami oleh tutor, yaitu : 1. Konteks Lokal Agar pembelajaran pendidikan keaksaraan dapat berjalan sesui dengan fungsi dan tujuannya, maka kegiatan pembelajaran dilaksanakan berdasarkan minat, kebutuhaan, pengalaman, potensi yang dimiliki atau yang ada disekitar warga belajar serta benar-benar bermutu dan relevan. 2. Desain Lokal Tutor bersama warga belajar perlu merancang kegiatan belajar dikelompok belajar sebagai jawaban atas kebutuhan-kebutuhan belajar warga belajar. Unsur-unsur pokok yang berkaitan dengan penyajian pembelajaran keaksaraan usaha mandiri seperti : tujuan, kelompok sasaran, bahan belajar, sarana belajar, kegiatan belajar, waktu dan tempat usaha, dan unsur-unsur penting lain harus dirancang sesui dengan situasi, kondisi, dan potensi lokal dimana kelompok belajar usaha berada. Perlu juga dibuat kesepakatan belajar, rencana pembelajaran usaha, dan pemilihan jenis potensi lokal. Bahan usaha belajar mandiri harus bermamfaat untuk mencari nafkahb bagi kehidupan warga belajar sehari-hari. Kebutuhan warga belajar perlu dipahami agar dapat mengembangkan program pembelajaran pendidikan usaha mandiri usaha yang diminati dirancang sesui denga potensi lokal. 3. Proses Partisipatif Tutor melibatkan waarga belajar secara aktif dari mulai tahap perncanaan, penilaian hasil samapi dengan tindak lanjut pembelajaran. Program pendidikan keaksaraan usaha mandiri harus mampu memobilisasi warga belajar baik individu maupun kelompok untuk melakukan beragam tindakan atau perbuatan sehingga dapat mengembangkan ragam keterampilan berusaha yang bermamfaat untuk memperbaiki mutu kehidupan dan tarap kehidupan warga belajar. 4. Fungsionalisasi Hasil Belajar Hasil pembelajaran merupakan kecakaapan yang dapat memecahkan masalah keaksaraannya dan meningkatkan mutu kehidupannya. Program pendidikan keaksaraan udaha mandiri harus memberikan mamfaat dan makna yang berkaitan secara langsung dengan lingkungan hidup, pekerjaan/mata pencaharian, dan situasi keluarga warga belajar, sehingga hasil belajar yang dicapai warga belajar memberi mamfaat bagi peningkatan mutu kehidupan. 5. Kesadaran Proses pembelajaran keaksaraan usaha mandiri hendaknya dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian waga belajar untuk berusaha terhadap keadaan dan permasalahan lingkungan untuk melakukan aktivitas kehidupannya. Proses pembelajaran hendaknya dapat memotivasi warga belajar untuk berupanya memahami berbagai factor yang berpengaruh terhadap masalah-masalah yang dihadapinya, dan ikut memikirkan alternative caara yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. 6. Feleksibilitas Program pendidikan keaksaraan usaha mandiri harus fleksibel agar memungkinkan untuk dimodifikasi sehingga responsof terhadap minat dan kebutuhan belajar usaha sertan kondisi lingkungan warga belajar yang berubah dari waktu ke waktu. 7. Keanekaragaman Program pendidikan keaksaraan usaha mandiri hendaknya bervariasi dilihan dari segi materi, metode, maupun strategi belajar usaha sehingga mampu memenuhi minat dan kebutuhan belajar warga belajar disetiap daerah berbeda-beda. 8. Kesesuian Hubungan Belajar Program pendidikan keaksaraan uasaha mandiri seyogianya dimulai dari hal-hal yang telah diketahui oleh warga belajar, sehingga pengalaman, kemampuan, minat dan kebutuhan belajar mereka hendaknya menjadi dasar dalam menjalin hubungan yang harmonis dan dinamis antara tutor dengan warga belajar dan konsumen atau pasar dalam kegiatan pembelajarn usaha mandiri. Mengingat warga belajar pendidikan keaksaraan Usaha mandiri pada umumnya merupakan kelompok orang dewasa, maka proses pembelajaran yang digunakan hendaknya mengikuti kaidah-kaidah pendidikan orang dewasa (adragogy). Kaidah-kaidah pendidikan orang dewasa yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1. Pembelajaran harus berorientasi pada pemecahan masalah lingkungan (probem serving orienfed). Permasalah hendaknya digali dari pendapat dan diketahui oleh warga belajar. 2. Pembelajaran harus berbasis pada pengalaman berusaha warga belajar (Exterience-based learning) agar makin mudah dipahami. 3. Pembelajaran harus memberikan pengalaman yang bermakna (meaningfull) bagi warga belajar agar lebih diminati. 4. Pembelajaran harus memberikan kebebasan bagi warga belajar untuk ikut memiliki isi dan proses belajar usaha sesuai dengan minat, kebutuhan dan pengalamannya. 5. Tujuan pembelajaran usaha harus ditetapkan dan disetujui oleh warga belajar melalui kontrak belajar (learning contract). 6. Warga belajar pendidikan usaha mandiri harus memperoleh umpan balik (feedback) terhadap dirinya tentang pencapaian hasil belajar usaha masing-masing indipidu. 7. Pembelajaran usaha harus dimulai dari dan berdasarkan pada pengetahuan dan kompetensi yang sudah ada sebelumnya (Prior learning). 8. Pengutan (reinforcement) harus bersfat positif dan meningkatkan motivasi belajar usaha bagi warga belajar. 9. Pembelajaran Pendidikan usaha mandiri harus memungkinkan warga belajar untuk berpartisipasi ecara aktif sehingga dapat mempernaiki dan memperpanjang ingatan memperbaiki ekonomi hidupnya. 10. Materi pembelajaran usahan mandiri pada pendidikan keaksaraan harus sesuai dengan kebutuhan warga belajar. 11. Metode pembelajaran Keaksaaraan Usaha Mandiri perlu mempertimbangkan mental dan karaktristiik fisik warga belajar. Strategi pembelajaran KUM adalah suatu pola belajar yang menggunakan informasi dalam proses identifikasi kebutuhan belajar dan perencanaan program belajar. Pola pembelajaran pendidikan keaksaraan terdiri atas langkah kegiatan membaca, menulis, menghitung, diskusi, dan aksi penerapan. Berikut ini dalah tiga pola /strategi pembelajaran pendidikan Keaksaraan Usaha Mandiri : a. Pola pertama meliputi langkah-langkah membaca, menulis, menghitung dan berdiskusi. Kegiatan tersebut dapat diterapkan pada pengembangan usaha kelompok atau individu, metode pembelajaran pengalaman berbahasa, menggali potensi sumber daya potensi local yang dapat dianalisis sebagai usaha mandiri. b. Pola kedua meliputi langkah-langkah menetapkan jenis usaha kemudian berdiskusi, membaca, menulis, dan berhitung dalam rangka mengelola dan mengembangkan usaha. c. Pola ketiga mereka belajar memmbaca, menulis, berhitung, berdiskusi, dan kegiatan usaha mandiri. Kegaiatan tersebut dapat dilaksanakan secara simultan dalam rangka mengembangkan usaha. Ketiga pola strategi pembelajaran tersebut bukan berarti langkah yang baku atau harus dilakukan secara berurutan. Pola tersebut dapat dilakukan secara acak menurut kecendrungan karaktristik warga belajar atau kebutuhan setempat, misalnya dimulai dengan diskusi, kemudian dilanjutkan dengan belajar membaca, menulis dan berhitung. Pemilihan dan penentuan strategi tersebut dapat dilakukan dengan memperhatikan kecendrungan warga belajar pada awal proses pembelajaran. Pengalaman belajar keaksaraan usaha mandiri adalah serangkaian kegitan belajar keterampilan usaha yang dialami warga belajar yang memungkinkan tercapainya kompetensi keaksaraan usaha mandiri pada keterampilan usaha tertentu. Hasil belajar keterampilan Usaha mandiri adalah kompetensi Keaksaaraan Usaha Mandiri yang dicapai warga belajar setelah mengikuti program pendidikan keaksaraan Usaha Mandiri pada keterampilan usaha tertentu. B. Konsep Dasar Tentang Metode Pembelajaran KF Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah,maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan. Metode belajar adalah cara memperoses kegiatan belajar supaya warga belajar dapat berintraksi secara aktif sehingga terjadi perubahan pada dirinya sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Tutor seharusnya mampu menentukan metode pembelajaran yang dipandang dapat membelajarkan warga belajar melalui proses pembelajaran yang dilaksanakan, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif, dan hasil belajar pun di harapkan dapat lebih ditingkatkan. Metode pembelajaran dapat ditentukan oleh tutor dengan memperhatikan tujuan dan materai pembelajaran. Perimbangan pokok dalam menentukan metode pembelajaran terletak pada keefektifan proses pemebalajaran. Tentu saja orientasi tutor adalah kepada warga belajar belajar. Jadi metode pembelajaran yang digunakan pada dasarnya hanya berfungsi sebagai bimbingan agar warga belajar belajar. Metode pembelajaran dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakkristik yang dipilih, misalnya metode Tanya jawab, diskusi, ekperimen dan pedekatan beberapa model pembelajaran. Strategi adalah siasat melakukan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang mencakup metode dan teknik mengajar. Adapun yang dimaksud dengan metode adalah cara mengajarnya itu sediri. Sedangkan yang dimaksud dengan teknik adalah cara melakukan kegiatan-kegiatan khusus dalam menggunakan suatu metode tententu, seperti teknik bertanya, teknik menjelaskan, dan sebagainya. Metode pembelajaran merujuk apa yang terjadi di sekolah sehungungan dengan proses pembelajaran, baik di dalam maupun diluar kelas. Proses pembelajaran merurut tutor untuk mengembangkan atau merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi. Tutor professional selalu melandaskan pekerjaannya pada landasan konsep dan teori yang jelas. Jika diselusuri lebih jauh tentang kompetensi professional, kemudian dibandingkan dengan apa yang haris dilakukan dalam metode pembelajaran, dapat diperoleh kesan bahwa: a. Dalam metode pembelajaran diperlukan landasan, baik filosofis, psikologi, maupun teori-teori tentang belajar b. Dalam pengembangan atau materai pembelajaran diperlukan kemampuan mengorganisasi c. Dalam melaksanakan proses pembelajaran sebagai implementasi metode pembelajaran diperlukan kemampuan menangani pembelajaran, menggunakan alat, metode pembelajaran, dan fasilitas belajar. d. Untuk menilai hasil pencapaian pembelajaran perlu kemampuan mengevaluasi. e. Pada tingkat yang lebih tinggi metode pembelajaran itu di arahkan untuk menumbuhkan kepribadian warga belajar sesuai dengan tujuan akhir pendidikan yang hendak dicapai. Tutor dapat menggunakan sebagai metode pembelajaran untuk mendapatkan hasil belajar yang oftimal. Metode yang dipilih harus pembelajaran dalam bentuk pemberian tugas proyek demonstrasi, pemecahan masalah untuk menghasilkannya yang melibatkan partisipasi aktif warga belajar. Tutor perlu mempertimbangkan model pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi yang dikembangkan. Tutor juga harus membuat perencanaan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu ,jenis penugasan, dan batas akhir suatu tugas. Metode pembelajaran dewasa ini pada umumnya menggunakan pendekatan system (sytem approach). Dengan pendekatan ini pembelajaran dipandang sebagai suatu system. Suatu system mempunyai sejumlah komponen yang saling berintraksi dan berhubungan dalam rangka mencapai tujuan. Sistem pembelajaran juga mempunyai sejenis komponen yaitu materai, metode, alat, dan evaluasi. Semua komponen itu saling berintraksi dan berhubungan dalam rangka mencapai satu tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, tutor dalam menggunakan metode pembelajaran, perlu mempertimbangkan faktor-faktor kesesuaian anatara metode pembelajaran dengan tujuan pembelajaran, materai pembelajaran, kemampuan tutor, kondisi warga belajar, sumber dan fasilitas yang tersedia, situasi kondisi pembelajaran, dan waktu yang tersedia. Disamping kesesuaian metode pembelajaran dengan foktor disebutkan di atas, dalam peraktek pembelajaran tutor harus memahami fungsi dan kegunaan serta batas-batas penggunaan suatu metode pembelajaran. Hal ini jelas merupakan tuntutan yang dihadapi dalam penyelenggaraan proses pembelajaran. Menentukan metode atau kegiatan belajar merupakan langkah penting yang sangat menunjang keberhasilan pencapaian tujuan. Kegiatan itu harus disesuaikan dengan tujuan. Dalam menetapkan kegiatan belajar, tutor harus menetapkan kegiatan mana yang perlu dilakukan .Untuk itu perlu diketahui batas kemampuan warga belajar. Untuk memudahkan pelaksanaan pelaksanaan, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Merumuskan suatu kegiatan belajar yang memungkinkan untuk dilakukan b. Menetapkan kegiatan-kegiatan yang tidak perlu dilakukan agar mencapai efesiensi proses pembelajaran. c. Menetapkan kegiatan yang akan dilakukan baik tutor maupun warga belajar. Terdapat berbagai metode pembelajaran bagi orang dewasa yang rekomendasikan oleh para ahli pendidikan luar sekolah. Namun demikian perlu dipahami bahwa metode pembelajaran hanyalah sebagai suatu cara yang dipilih dan ditetapkan tutor untuk mempermudah proses pembelajaran, artinya suatu cara/tindakan yang dirancang tutor sehingga menimbukan kegiatan belajar bagi warga belajar. Berbagai macam motede pembelajaran yang ditemukan oleh para ahli dengan berbagai kelemahan dan kelebihan masing-masing. Suatu metode pembelajaran baru dapat dipergunakan/diterapkan apabila ada bahan pembelajaran yang ingin dipelajari atau dipahami. Karenaanya dalam memlih dan menetapkan metode pembelajaran dalam suatu kegiatan pembelajaran, perlu diperhatikan beberapa kriteria sebagai berikut : 1. Pemilihan dan penetapan metode harus berorientasi pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai; 2. Memperhatikan materi (bahan ajar) yang akan disampaikan kepada warga belajar dengan berbagai karekteristiknya sebagai orang dewasa; 3. Media belajar yang akan dipergunakan dalam proses pembelajaran; 4. Tingkat kemampuan dan kemudahan warga belajar dalam menyerap dan memahami materi pembelajaran. 5. Memperhatikan efektifitas efisiensi, daya tarik media dan iklim/suasana pembelajaran dikelompok belajar; Meote adalah cara yang digunakan oleh tutor, pendidik atau tutor untuk menyampaikan pelajaran kepada anak didiknya. Karena penyampaian itu berlasngsung dalam interaksi edukatif, metode mengajar dapat diartikan sebagai cara yang digunakan oleh tutor dalam mengadakan hubungan dengan peserta didik pada saat berlangsungnya pengajaran. Dengan demikian, metode mengajar merupakan alat untuk menciptakan proses belajar mengajar. Mengingat mengajar pada hakikatnya merupakan upaya tutor dalam menciptakan situasi belajar, metode yang digunakan oleh tutor diharapkan mampu menumbuhkan berbagai kegiatan belajar bagi peserta didik sehubungan dengan kegiatan mengajar tutor. Dengan perkataan lain, prose belajar mengajar merupakan proses intaksi edukatif antara tutor yang menciptakan suasana belajar dan peserta didik yang memberi respons terhadap usaha tutor tersebut. Oleh sebab itu metode mengajar yang baik adalah suasana yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar bagi warga belajar, dan upaya tutor memilih metode yang baik merupakan upaya mempertinggi mutu pengajaran atau pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. “Pembelajaran atau pengajaran pada dasarnya merupakan kegiatan guru menciptakan situasi agar peserta didik belajar. Tujuan utama dari pembelajaran atau pengajaran adalah agar peserta didik belajar”. (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Syaodih S., 2007:124) Belajar merupakan proses mental yang dinyatakan dalam berbagai perilaku, baik perilaku fisik-motorik maupun psikis. Meskipun kegiatan belajar merupakan kegiatan fisik-motoriknya (keterampilan) tetapi di dalamnya tetap terdapat kegiatan mental, tetapi kegiatan fisik-motoriknya lebih banyak dibandingkan dengan proses mentalnya. Agar tercipta pembelajaran atau pengajaran yang efektif, perlu digunakan pendekatan, model atau metode pembelajaran yang tepat. Pemilihan pendekatan, model, metode mengajar/pembelajaran hendaknya didasarkan atas beberapa pertimbangan. “Tujuan pembelajaran. Kegiatan pemebelajaran diarahkan pada pencapaian tujuan belajar. Tujuan memberikan arah terhadap semua kegaiatan dan bahan yang akan disajikan. Setiap bahan dan pendekatan mengajar dirancang dan dilaksnakan dengan maksud pencapaian tujuan secara maksimal. Tujuan pengajaran dirumuskan dalam bentuk perilaku atau performansi. Tujuan tersebut ada yang berkenaan dengan ranah kognitif, afektif, ataupun psikomotorik.” (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Syaodih S., 2007:125) “Karakteristik mata pelajaran. Mata pelajaran yang akan diberikan termasuk atau bagian dari bidang ilmu atau bidang profesi tertentu. Tiap bidang ilmu dan bidang profesi memiliki karakteristik sendiri yang berbeda dengan yang lainnya”. (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Syaodih S., 2007:125) Belajar dan pembelajaran merupakan konsep yang saling berkaitan. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku akibat interaksi dengan lingkungan. Proses perubahan tingkah laku merupakan upaya yang dilakukan secara sadar berdasarkan pengalaman ketika berinteraksi dengan lingkungan. Pola tingkah laku yang terjadi dapat dilihat atau diamati dalam bentuk perbuatan reaksi dan sikap secara mental dan fisik tingkah laku yang berubah sebagai hasil proses pembelajaran mengandung pengertian luas, mencakup pengetahuan, pemahaman, sikap, dan sebagainya. Perubahan yang terjadi memiliki karakteristik: (1) perubahan terjadi secara sadar, (2) perubahan dalam belajar bersifat sinambung dan fungsional, (3) tidak bersifat sementara, (4) bersifat positif dan aktif, (5) memiliki arah dan tujuan, dan (6) mencakup seluruh aspek perubahan tingkah laku, yaitu pengetahuan, sikap, dan perbuatan. Keberhasilan belajar peserta didik dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal, yaitu kondisi dalam proses belajar yang berasal dari dalam diri sendiri, sehingga terjadi perubahan tingkah laku. Ada beberapa hal yang termasuk faktor internal, yaitu: kecerdasan, bakat (aptitude), keterampilan (kecakapan), minat, motivasi, kondisi fisik, dan mental. Faktor eksternal, adalah kondisi di luar individu peserta didik yang mempengaruhi belajarnya. Adapun yang termasuk faktor eksternal adalah: lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat (keadaan sosio-ekonomis, sosio kultural, dan keadaan masyarakat). Pada hakikatnya belajar dilakukan oleh siapa saja, baik anak-anak maupun manusia dewasa. Pada kenyataannya ada kewajiban bagi manusia dewasa atau orang-orang yang memiliki kompetensi lebih dahulu agar menyediakan ruang, waktu, dan kondisi agar terjadi proses belajar pada anak-anak. Dalam hal ini proses belajar diharapkan terjadi secara optimal pada peserta didik melalui cara-cara yang dirancang dan difasilitasi oleh tutor. Pembelajaran merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar peserta didik, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian eksternal yang berperanan terhadap rangkaian kejadian-kejadian internal yang berlangsung di dalam peserta didik (Winkel, 1991). Proses pembelajaran yang berhasil guna memerlukan teknik, metode, dan pendekatan tertentu sesuai dengan karakteristik tujuan, peserta didik, materi, dan sumber daya. Sehingga diperlukan strategi yang tepat dan efektif. Faktor yang memengaruhi proses pembelajaran terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan pribadi tutor sebagai pengelola kegiatan belajar. Tutor harus dapat melaksanakan proses pembelajaran, oleh sebab itu tutor harus memiliki persiapan mental, kesesuaian antara tugas dan tanggung jawab, penguasaan bahan, kondisi fisik, dan motivasi kerja. Faktor eksternal adalah kondisi yang timbul atau datang dari luar pribadi guru, antara lain keluarga dan lingkungan pergaulan di masyarakat. Faktor lingkungan, yang dimaksud adalah faktor lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan tempat belajar. Pada hakikatnya belajar dilakukan oleh siapa saja, baik anak-anak maupun manusia dewasa. Pada kenyataannya ada kewajiban bagi manusia dewasa atau orang-orang yang memiliki kompetensi lebih dahulu agar menyediakan ruang, waktu, dan kondisi agar terjadi proses belajar pada anak-anak. Dalam hal ini proses belajar diharapkan terjadi secara optimal pada warga belajar melalui cara-cara yang dirancang dan difasilitasi oleh tutor. C. Konsep Dasar Pelatihan “Pelatihan adalah upaya pembelajaran, yang diselenggarakan oleh organisasi (instansi Pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, perusahaan, dan lain sebagainya) untuk memenuhi kebutuhan atau untuk mencapai tujuan organisasi”. (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Djuju sudjana, 2007:468) Suatu pelatihan dianggap berhasil apabila dapat membawa kenyataan atau performansi sumber daya manusia yang terlibat dalam organisasi pada saat ini kepada kenyataan atau performansi sumberdaya manusia yang seharusnya atau yang diinginkan oleh organisasi penyelenggara pelatihan. Pelatihan mengandung beberapa arti, Pertama, Pelatihan adalah suatu proses penyampaian dan pemilikan keterampilan, pengetahuan, dan nilai-nilai. Kedua, Pelatihan adalah produk (hasil) dari proses tersebut, yaitu pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dalam pelatihan. Ketiga, Pelatihan adalah kegiatan professional yang memerlukan pengalaman khusus dan pengakuan (sertifikasi). Keempat, Pelatihan adalah suatu disiplin akademik, yaitu kegiatan terorganisasi untuk mempelajari proses, produk, dan profesi pelatihan dengan menggunakan kajian sejarah, filsafat, dan ilmu pengetahuan tentang manusia, atau kajian keilmuan tentang manusia yang bermasyarakat (the sciences of social man). (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Djuju sudjana, 2007:472) Henry Simamora (1995) mengkaji pelatihan dan menyimpulkan sebagai berikut: (1) pelatihan adalah serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan berbagai keahlian, pengetahuan, pengalaman; yang berarti perubahan sikap, (2) pelatihan merupakan penciptaan lingkungan tertentu dimana para pegawai dapat memperoleh atau mempelajari sikap, kemampuan, keahlian, pengetahuan, dan perilaku yang secara spesifik berkaitan dengan pekerjaan, (3) pelatihan berkenaan dengan prolehan keahlian-keahlian tertentu yang diarahkan untuk membantu pegawai dalam melaksanakan pekerjaan mereka pada saat ini dengan lebih baik. (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Djuju Sudjana, 2007:469) Dilihat dari segi pengembangan model pelatihan, hingga dewasa ini terdapat berbagai model. D. Sudjana, dalam bukunya Startegi Pembelajaran (2000), menjelaskan bahwa “pelatihan merupakan upaya pembelajaran yang dikembangkan dari proses pembelajaran paling tua di dunia, yaitu magang (apprenticeship). Dalam perkembangannya pelatihan telah menggunakan berbagai model”. (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Djuju sudjana, 2007:469) D. Sudjana (2003) diuraikan berbagai model pelatihan. Diantaranya adalah: “Model Pelatihan Keterampilan Kerja (Skills Training for the Job), model pengembangan Strategi Pelatihan, Model Rancang Bangun Pelatihan dan Evaluasi (Training Design and Evaluation Model), Model Pelatihan Empat Langkah, Model Pelatihan Tujuh Langkah, Model Pelatihan Sembilan Langkah, dan Model Pelatihan Sepuluh Langkah”. (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Djuju sudjana, 2007:482) Model-model pelatihan terbaru kemungkinan akan muncul sebagai hasil kajian deduktif dan induktif. Kajian deduktif dimulai dengan menjabarkan teori, prinsip-prinsip, dan model-model pelatihan yang sudah ada program-program pelatihan yang digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi sumber daya manusia dalam suatu organisasi, lembaga, atau masyarakat; kemudian dilakukan inivasi terhadap model pelatihan yang digunakan. Model induktif dilakukan atas inisiatif dan kreativitas lembaga-lembaga penyelenggara dan pelaksana pelatihan dalam mengembangkan sumber daya manusia pada berbagai situasi di lapangan yang kemudian fakta-fakta berdasarkan pengalaman di lapangan, kemudian fakta-fakta berdasarkan pengalaman lapangan diolah menjadi informasi, konsep, prinsip yang menghasilkan model pelatihan baru. Pengelolaan program pelatihan berdasarkan manajemen pendidikan nonformal mempunyai fungsi-fungsi tersendiri. Diantaranya dikemukakan oleh D. Sudjana (2004) dalam buku Manajemen Program Pendidikan, bahwa fungsi-fungsi pendidikan luar sekolah yang direkomendasikan untuk digunakan dalam pengelolaan program pelatihan adalah: (1) perencanaan (planning), (2) pengorganisasian (organizing), (3) penggerakan (motivating), (4) pembinaan (conforming) dengan sub-sub fungsi supervise (supervising), pengawasn (controlling) dan pemantauan (monitoring), (5) penilaian (evaluating), dan (6) pengembangan (developing).(Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Djuju sudjana, 2007:470) Keenam fungsi tersebut berdaur dan berurutan dimulai dari perencanaan dan diakhiri dengan pengembangan. Pengembangan dapat menjadi titik awal bagi fungsi perencanaan selanjutnya dalam meningkatkan, memperluas, atau menindaklanjuti program pelatihan. Berkembangnya pelatihan dewasa ini dipengaruhi beberapa faktor, Pertama, keharusan pengembangan sumber daya manusia amat erat kaitannya dengan penyelenggaraan program pelatihan. Pengembangan sumber daya manusia itu sendiri sering dikaitkan, disamakan, atau disejajarkan dengan pelatihan. Kedua, pelatihan yang merupakan satuan pendidikan nonformal dalam system pendidikan nasional menjadi wahana penting dalam upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk membina serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat (individu, kelompok, lembaga, dan komunitas). Ketiga, lahirnya peraturan perundang-undangan bagi lembaga-lembaga pemerintah untuk menyelenggarakan pelatihan. Peraturan tersebut berkaitan dengan upaya pembentukan pusat pendidikan dan latihan disetiap lembaga pemerintah, baik yang berstatus departemen maupun non departemen, dan pemerintah daerah baik tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten dan kota, yang berfungsi menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan. Orientasi program pelatihan dapat dibagi menjadi tiga kategori. Pertama, pelatihan yang berorientasi pada kepentingan lembaga penyelenggara pelatihan. Pelatihan ini direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi oleh lembaga penyelenggar pelatihan dangan maksud untuk memenuhi kebutuhan lembaga itu sendiri. Kedua, pelatihan yang dilaksanakan dengan orientasi untuk memenuhi kebutuhan sasaran dan atau masyarakat yang menjadi layanan suatu lembaga. Kebutuhan sasaran dapat mencakup kebutuhan belajar, kebutuhan pendidikan atau kebutuhan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan hidup sasaran dan masyarakat. Ketiga, pelatihan yang dilaksanakan dengan berorientasi untuk memenuhi kebutuhan individu, lembaga, dan kemunitas tertentu. Pelatihan ini diselenggarakan dalam upaya memenuhi salah satu atau semua kebutuhan tersebut. Pelatihan yang ideal dilakukan secara sitematik dan berkelanjutan. “Sistematik berarti berdasarkan system, sedangkan berkelanjutan (continuity) dilakukan secara berkesinambungan atau terus menerus. Sistem pelatihan adalah suatu kesatuan (organisme) pelatihan yang terdiri atas komponen-komponen yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya dan proses untuk mencapai tujuan pelatihan”. (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Djuju sudjana, 2007:481) Dengan demikian pelatihan yang baik adalah pelatihan yang dilakukan secara sistematik dan berkelanjutan guna tercapainya tujuan dari pelatihan tersebut, yaitu peningkatan Sumber Daya Manusia yang memiliki keterampilan berdasarkan materi tang diikutinya pada saat pelatihan berlangsung. Walapun mungkin terdapat hasil dan dampak pelatihan di bidang lainnya namun keberhasilan suatu pelatihan adalah terjadinya perubahan penampilan yang terukur pada diri peserta atau lulusan program pelatihan. Penampilan tersebut ditandai oleh perubahan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan aspirasi peserta atau lulusan program pelatihan sebagai sumber daya manusia yang berada dalam lembaga. BAB III PEMBAHASAN A. Motede Latihan dan Peraktik Pada Pembelajaran KUM Dalam belajar verbal dan belajar keterampilan, meningkatkan kemampuan hasil belajar dapat dicapai melalui latihan dan peraktik. Latihan biasa berlangsung dengan cara mengulang-ulang suatu hal sehingga terbentuk kemampuan yang diharapkan, sedangkan peraktik biasanya dilakukan suatu kegiatan dalam situasi sebenarnya, sehingga memberi pengalaman belajar yang bersifat langsung. Bentuk belajar verbal seperti mempelajari bahasa, dan bentuk belajar keterampilan seperti belajar olah raga atau pendidikan keterampilan kerajinan memerlukan bentuk-bentuk kecakapan yang dapat dipertunjukkan dalam dalam kondisi yang sebenarnya. Kecakapan demikian dapat dicapai melalui latihan atau peraktik sehingga kecakapan yang diharapkan dimiliki warga belajar dapat benar-benar dimiliki. Latihan dan peraktik dapat dilaksanakan perseorangan, kelompok atau kalasikal. Menentukan apakah latihan yang dilaksanakan bersifat peseorangan, kelompok atau klasikal,didasarkan atas memadaianya sarana dan prasarana yang tersedia. Namun demikian, makin sedikit jumlah yang ditangani dalam peraktik dan latihan , makin memperoleh hasil yang baik. Langkah-langkah dalam melaksanakan latihan dan peraktik baik untuk berajar verbal maupun belajar keterampilan sebagai berikut : 1. Tutor memberi penjelasan singkat tontang konsep, prinsip, atau aturan yang menjadi dasar dalam melaksanakan pekerjaan yang akan dilatihkan. 2. Tutor mempertunjukkan bagaimana melakukan pekerjaan itu dengan baik dan benar sesuai dengan konsepdan aturan tertentu. Pada bentuk belajar verbal yang dipertunjukkan adalah pengucapan atau penulisan kata atu kalimat. 3. Jika belajar dilakukan secara berkelompok atau klasikal, tutor dapat meminta salah seorang warga belajar untuk meniru apayang dilakukan guru, sementara warga belajar lain memperhatikan 4. Latihan perseorangan dapat dilakukan melalui bimbingan dari tutor sehingga dicapai hasil belajar sesuai dengan tujuan. Pelaksanaan latihan dan peraktik akan lebih mencapai keaktifan jika dibantu alat-alat yang sesuai dengan kebutuhan . Alat tersebut dapat berbentuk alat sederhana, atau alat simulasi yang canggih. Satu hal yang tidak bolah diabaikan adalah bimbingan tutor dalamlatihan maupun peraktik. Manusia memiliki bakat khusus sejak dilahirkan, dengan bakat khusus tersebut manusia dapat mengembangkan dirinya, bakat khusus merupakan pembawaan yang berupa potensi khusus yang jika memperoleh kesempatan dengan baik untuk pengembangannya, akan muncul sebagai kemampuan khusus dalam bidang tertentu sesuai potensi tersebut. Setidaknya ada lima jenis bakat khusus itu, baik yang masih berupa potensi maupun yang sudah terwujud, yaitu: 1. Bakat akademik khusus 2. Bakat kreatif-produktif 3. Bakat seni 4. Bakat kinestetik/psikomotorik 5. Bakat sosial. (Asrori, 2008:99) Termasuk ke dalam bakat akademik khusus, misalnya: bakat bekerja dalam angka-angka, logika, bahasa, dan sejenisnya. Bakat khusus dalam bidang kreatif-produktif artinya bakat dalam menciptakan sesuatu yang baru, misalnya: menghasilkan rancangan arsitektur terbaru, menghasilkan teknologi terbaru, dan sejenisnya. Bakat khusus dalam bidang seni, misalnya: mampu mengaransemen musik dan sangat dikagumi, mampu menciptakan lagu hanya dalam waktu 30 menit lengkap dengan syair dan notasinya, mapu melukis dengan sangat indah dalam waktu singkat, dan sejenisnya. Bakat khusus kinestetik/psikomotorik, misalnya: memiliki kemampuan luar biasa dalam bidang sepak bola, bulu tangkis, tennis, keterampilan teknik, dan sebagainya. Adapun bakat khusus dalam bidang sosial, misalnya: sangat mahir untuk melakukan negosiasi, sangat mahir untuk menawarkan suatu produk, sangat mahir dalam mencari koneksi, sangat mahir dalam berkomunikasi dalam organisasi, sangat mahir dalam kepemimpinan, dan sejenisnya. Begitu juga kaitannya dengan keterampilan, keterampilan lebih berkarakteristik pragmatik (praktik). Mata pelajaran yang lebih bersifat praktis, maka sistem pembelajarannya lebih banyak mengandung unsur praktik atau psikomotorik yang bisa dilihat pada setiap gerakan peserta didik. “kemampuan warga belajar. Warga belajar adalah subyek dan pelaku dari dari kegiatan pembelajaran. Pembelajaran diarahkan agar warga belajar belajar. Melalui kegiatan belajar ini potensi-potensi, kecakapan dan karakteristik warga belajar dikembangkan. Kemampuan warga belajar merupakan hal yang sangat kompleks, selain terkait dengan jenis dan variasi tingkat kemampuan yang dimiliki para warga belajar, tetapi juga dengan tahap perkembangan, status, pengalaman belajar, serta berbagai factor yang melatar belakanginya”.( Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Syaodih S., 2007:125) “Kemampuan Tutor. Meskipun Tutor atau dosen seharusnya seorang pendidik professional, dalam kenyataannya kemampuan profesionalnya masih terbatas. Terbatas karena latar belakang pendidikan, pengalaman, pembinaan yang belum intensif, atau karena hal-hal yang bersifat internal. Pemilihan pendekatan, model dan metode mengajar juga harus disesuaikan dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada pada Tutor/dosen. Seorang Tutor atau dosen tidak bisa mengajarkan apa yang tidak dia kuasai”.( Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Syaodih S., 2007:125) Untuk pembelajaran kompetensi bidang kejuruan dan keterampilan, pendekatan dan metode-metode pembelajaran yang dapat digunakan, adalah salah satu atau kombinasi dari model dan metode-metode berikut: 1. Pembelajaran Kooperatif 2. Pembelajaran Langsung 3. Pembelajaran Simulasi 4. Pembelajaran Praktik 5. Pembelajaran di Lapangan Hampir semua pendekatan, model dan metode pembelajaran untuk pengembangan kemampuan berpikir (kognitif), afektif dan psikomotorik tahap menengah dan tinggi dapat digunakan dalam pembelajaran kompetensi umum-akademik. Dalam pemilihan dan penggunaannya sudah tentu disesuaikan dengan tahap perkembangan warga belajar, sifat mata pelajaran, serta dukungan sarana, fasilitas belajar serta lingkungan sekitar. Pendekatan dan metode yang diutamakan, selain menekankan pengembangan kemampuan kognitif, afektif, psikomotori tahap tinggi, juga menempatkan warga belajar sebagai subyek belajar. Pendekatan dan model-model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran kompetensi bidang umum-akademik, adalah : 1) Pembelajaran kontekstual, 2) Pembelajaran mencari-bermakna 3) Pengajaran berbasis pengalaman, 4) Pembelajarn terpadu, 5) Pembelajaran Kooperatif, 6) Pembelajarn berpikir induktif, 7) Pembelajaran pemerolehan konsep, 8) Pembelajaran latihan inkuiri, 9) Pembelajaran sinektik. (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Syaodih S., 2007:131) “Model pembelajaran terpadu (integrated learning) dan pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) atau CTL merupakan model pemeblajaran yang mengarah pada pembentukan kecakapan hidup”.( Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Syaodih S., 2007:125) Dalam dunia pendidikan dewasa ini dikenal istilah pembelajaran Kecakapan Hidup (lifeSkills). Kecakapn hidup adalah suatu istilah yang digunakan untuk menguraikan gabungan pengetahuan, proses, keterampilan dan sikap yang penting bagi orang-orang untuk berfungsi pada kehidupan mereka sekarang atau saat menghadapi perubahan peran hidup dan situasi di masa datang. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengidentifikasi sedikitnya empat satuan lifeskills yang memungkinkan para warga belajar untuk mengambil bagian dan berperan dalam kehidupan. Lifeskills dan hubungannya dengan peran hidup meliputi: (a) keterampilan pengembangan pribadi untuk tumbuh dan berkembang sebagai individu; (b) keterampilan sosial untuk hidup bersama dan berhubungan dengan orang lain; (c) keterampilan mengatur diri sendiri dengan kemampuan mengatur berbagai sumber daya dan (d) keterampilan sebagai warga Negara untuk menerima dari dan berkontribusi kepada masyarakat lokal, nasional dan global. Para warga belajar dapat mengembangkan setiap kemampuan lifekills ini pada situasi masyarakat yang berbeda-beda dengan mengikutsertakan, dan merefleksikannya dalam berbagai aktivitas seni”.(Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Zakaria sukarya soetedja, 2007:426) Kecakapan hidup pada intinya lebih menekannkan pada penguasaan kecakapan yang memungkinkan seseorang untuk memperoleh mental yang memadai (well being) dan kompetensi bagi kelompok remaja dalam menghadapai kenyataan kehidupan sehari-hari. Hampir semua professional yang memiliki kajian dalam pengembangan pendidikan kecakapan hidup. “Model pendidikan realistik (realistic education) yang kini sedang berkembang juga merupakan upaya mengatur antara pendidikan sesuai kebutuhan nyata peserta didik, agar hasilnya dapat diterapkan guna memecahkan dan mengatasi problema hidup yang akan dihadapi”.( Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Ayi Olim, Muhammad Ali, 2007:360) Metode Pembelajaran yang diterapkan Tutor banyak memungkinkan warga belajar belajar proses (learningby process) bukan hanya belajar produk (learning by product). Belajar produk pada umumnya hanya menekankan pada segi kognitif, afektif (sikap) maupun psikomotor (keterampilan). Oleh karena itu metode pembelajaran diarahkan untuk mencapai sasaran tersebut, yaitu lebih banyak menekankan pembelajaran melalui proses. Mengajar dalam prakteknya memerlukan berbagai keterampilan yang perlu dikuasai oleh Tutor untuk menciptakan suatu proses pembelajaran yang bermakna . untuk merangsang timbulnya aktifitas dalam belajar, sebelum warga belajar memulai kegiatan mempelajari materi pembelajaran, Tutor perlu mengantarkan dengan suatu penjelasan. Kegiatan memberi penjelasan hampir selalu ada dalam setiap pembelajaran. Tujuan memberi penjelasan adalah: a. Memberi pengertian kepada orang lain (warga belajar). b. Mengarahkan warga belajar berpikir logis, estetis, dan selaras dengan kaidah-kaidah moral. c. Melatih kemampuan berpikir menggunakan hubungan sebab akibat. d. Memberi bekal untuk mandiri dalam mengambil keputusan bagi dirinya sendiri, serta menanamkan keyakinan terhadap apa yang akan dipelajari. e. Menuntun warga belajar kepada pengertian yang jelas dalam menjawab pertanyaan: apa, mengapa, dan bagaimana. f. Melibatkan warga belajar dalam berpikir memecahkan masalah. g. Menghindari salah pengertian. Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam memberi penjelasan antara lain: 1. Penjelasan hendaknya diberikan dengan isi yang jelas, menggunakan materi pembelajaran yang sederhana dan mudah dipahami, memberi arti yang jelas terhadap setiap istilah yang masih dianggap asing, menghindari kata-kata atau ungkapan yang mengaburkan pengertian, dan menghindari kebiasaan ucapan yang mengganggu perhatian, seperti “apa itu, apa namanya, eeee atau uhm.” 2. Memberi contoh atau ilustrasi terhadap konsep atau prinsip tertentu yang menjadi materi penjelasan, agar penjelasan mudah dipahami dan menarik perhatian. Pemberian contoh ini dapat pula menggunakan alat Bantu mengajar. 3. Hal yang menjadi inti penjelasan, atau hal yang dipandang penting diberi penekanan dalam menjelasan dengan teknik yang dapat mengundang perhatian. 4. Menggunakan umpan balik dengan memberi kesempatan kepada warga belajar untuk mengembangkan pemahamannya terhadap materi pembelajaran yang dijelaskan atau memancing perhatian warga belajar yang menunjukkan keraguan terhadap apa yang dijelaskan. 5. Ketika menjelaskan, Tutor perlu memperhatikan pergerakan atau pergantian posisi tubuhnya di dalam kelas karena sangat penting dalam upaya mempertahankan perhatian warga belajar agar tetap terpusat pada materi pembelajaran yang sedang disajikan. Manfaat lainnya adalah menanamkan rasa dekat kepada warga belajar sambil memeriksa tingkah laku. Pergerakan Tutor ini bisa ke depan, ke belakang, ke samping kiri, atau ke samping kanan. Sikap Tutor ketika berjalan hendaknya dengan cara pertengahan antara langkah cepat dengan langkah lambat, yaitu tenang, nyaman, dan tidak mengganggu perhatian warga belajar. Tutor kadang-kadang berdiri atau kadang-kadang duduk. Gerak-gerik yang dilakukan anggota tubuh hendaknya disesuaikan dengan posisi tubuh. Gerak tubuh (body action) muncul secara spontan dan tidak dibuat-buat sehingga penampilan menjadi lebih tenang, santai, menarik perhatian, mengembangkan kehangatan diantara Tutor dengan warga belajar yang menjadi suasana belajar menjadi lebih hidup. Dalam menerapkan metode latihan dan praktik pada pendidikan non formal perlu diperhatikan Asas-asas dan tujuan pendidikan non formal mencakup asas kebutuhan, asas pendidikan sepanjang hayat, asas relevansi dengan pembangunan masyarakat, dan asas wawasan ke masa depan dengan meliputi : (1) Asas kebutuhan meliputi kebutuhan hidup manusia (human needs), kebutuhan pendidikan (educational needs), dan kebutuhan belajar (learning needs), penghargaan, dan/atau aktualisasi diri yang dimiliki saat ini dengan kebutuhan tersebut yang harus atau diharapkan terpenuhi. Kebutuhan pendidikan adalah jarak antara tingkat pendidikan atau kemampuan yang dimiliki pada saat ini dengan tingkat pendidikan atau kemampuan yang seharusnya atau diharapkan dipebuhi. Kebutuhan belajar adalah pernyataan tentang pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai tertentu yang ingin dipenuhi melalui kegiatan pendidikan nonformal. (2) Pendidikan sepanjang hayat (life-long education) adalah prinsip bahwa pendidikan dilakukan sepanjang hayat dengan keserasian antara pendidikan formal, nonformal dan informal. Pendidikan sepanjang hayat adalah upaya sadar untuk menumbuhkan kegiatan belajar sepanjang hayat (life-long learning). (3) Relevansi dengan pembangunan masyarakat merupakan wilayah utama pendidikan nonformal. Fungsi pendidikan nonformal adalah membelajarkan sumber daya manusia (human resource development) sebagai subyek pembangunan masyarakat sehingga mereka memiliki budaya berorganisasi (community organization) dan pengembangan ekonomi (economic development) di masyarakat baik pedesaan maupun perkotaan. (4) Wawasan ke masa depan (futures oriented) mengandung makna bahwa pendidikan adalah upaya mempersiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan pembelajaran, dan pelatihan bagi peranan peserta didik pada masa depan. (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Djuju Sudjana, 2007:30). Berdasarkan USPN No. 20/2003 dan PP No. 73/1991 tujuan Pendidikan Nonformal a. Melayani warga masyarakat supaya dapat tumbuh dan berkembang sedini mungkin dan sepanjang hayatnay guna meningkatkan martabat dan mutu kehidupannya, b. Membelajarkan masyarakat agar memiliki pengetahuan, keterampilan fungsional dan sikap untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah, atau melanjutkan studi ke tingkat dan atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi, c. Menyediakan layanan pendidikan sesuai kebutuhana masyarakat dan potensi lingkungan yang tidak dapat dipenuhi oleh pendidikan formal, d. Memberi kesempatan belajar bagai warga masyarakat yang karena sesuatu hal tidak dapat mengikuti pendidikan formal. Selain hal tersebut di atas kami juga memberikan Materi latihan dan peraktik langsung kepada warga belajar yang meliputi : 1. Identifikasi kebutuhan peralatan yang akan digunakan untuk proses pembuatan tenun tradisional serta fungsinya masing-masing 2. Memperkenalkan bagaimana cara memilih benang yang bagus didalam mengerjakan tenun tradisional 3. Memperkenalkan bagaimana cara memberikan pewarnaan dengan alami 4. Memperkenalkan cara mengolah hasil produk yang berkualitas 5. Cara mencari mitra kerja dan tet work (Setek Holder) serta mencarikan pangsa pasar. B. Strategi Pembelajaran Keterampilan Kerajinan Tenun pada Warga Belajar Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) Desa Pringgasela merupakan pusat tenun tradisional sasak dengan menggunakan alat tenun atau alat produksi yang sederhana, kain yang dihasilkan itu dengan bercirikan warna indah sekali dengan garis-garis sepanjang tenunannya. Starategi dan jalannya kegiatan dalam proses kegiatan pembelajaran kerajinan tenun tradisional sasak pada warga belajar KUM adalah melalui beberapa tahapan. Diantara tahapan-tahapan tersebut adalah: I. Persiapan Pada tahap ini tutor, melulai kegiatan dengan melakukan observasi dan pendataan kepada warga belajar yang sudah selesai melaksanakan proses pembelajaran pada KF dasar yang dibuktikan dengann adanya SUKMA atau Surat Tanda Selesai Belajar (STSB) yang dimikiki warga belajar. Dari hasil observasi dan pendataan terkumpul 20 orang warga belajar. (Daftar nama warga belajar terlampir). Setelah itu, kegiatan berikutnya tutor mengumpulkan warga belajar untuk melakukan tes kemampuan dasar warga belajar dengan memberikan format pengisian biodata pribadi warga belajar. Ini dilakukan tutor untuk mengetahui sampai sejauhmana kemampuan dasar warga belajar agar mudah dikelompokkan sesuai tingkat kecerdasan warga belajar. Dari hasil tes kemampuan warga belajar tutor membentuk dua kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang. Setelah itu, tutor bersama warga belajar membicarakan kontrak belajar sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan warga belajar tuk melaksanakan proses pembelajaran. Dari hasil kesepakatan bahwa warga belajar sepakat melaksanakan proses pembelajaran 3 kali dalam semimggu dengan materi pembelajaran sesuai kontek budaya lokal warga belajar, yaitu pembelajaran kerajinan tenun sasak tradisional. 2. Melaksanakan Proses Pembelajaran Pada tahap memulai pembelajaran tutor mengabsen warga belajar, dan mengajak warga belajar beroda. Pada tahap ini tutor memperkenalkan peralatan tenun yang digunakan warga belajar dalam latihan dan praktik. Seperangkat alat pokok yang digunakan dalam pembuatan produk kerajinan tenun tradisional sasak terdiri beberapa macam : 1) Lampat Alat ini dibuat dari kayu kelapa atau jenis kayu lain yang baik berat dan kuat. Fungsinya tempat berdirinya jajak. 2) Jajak Alat ini buat dari kayu nangka yang berwarna kekunig-kuningan dan bagian tengahnya berlubang. Alat ini tingginya 60 cm, lebar 12 cm, dan tebalnya 5 cm, alat ini berfungsi memegang tutukan yang telah berisi rol benang yang di desain. 3) Tutukan Alat ini juga terbuat dari kayu baik berupa sebilah papan, tebalnya 1 cm x 10 cm dan panjangnya 1,5 cm. Fungsi alat ini untuk tempat gulungan benang yang telah di desain motifnya. 4) Lekot Alat ini terbuat dari kayu randu yang berbentuk semi busur, bagian tengahnya berbentuk segi empat melengkung dengan ukuran 30 cm x 16 cm x 1 cm yang berfungsi sebagai sandaran untuk mengencanagkan perangkat-perangkat lain pada waktu menenun. Sedangkan bagian kiri-kanan berbentuk tangkai atau stang dengan ukuran masing-masing 40 cm. Jadi panjang lekot ini adalah 120 cm. 5) Tali Lekot Alat ini dibuat dari benang serat nanas yang sudah dipintal, akan tetapi karena kemajuan budaya, masayarakat sudah memakai tali nylon untuk menggantikan benang serat nanas. Tali lekot ini berfungsi untuk menjerat atau mengikat lekot denagn apit supaya dalam proses menenun, benantetap lurus dan tidak lepas. 6) Apit Alat ini dibuat dari kayu yang baik, alat ini dilengkapi dengan anak apit yang berbentuk sapu lidi yang ditempatkan di celah-celah lubang apit, bentuk dari apit ini adalah segi empat dengan ukuran 5 cm x 5 cm x 120 cm dan ujungnya dibuat jari-jari, m,asing-masing 4 buah. Fungsi dari alat ini adalah untuk nmenggulung lembaran kain yang sebagiannya sudah jadi dalam proses. 7) Belida Alat ini terbuat dari kayu jati, alat ini bentuknya seperti pedang ( ujung yang satu runcing sedangkan yang lain tumpul) dan berwarna hitam, fungsinya untuk menekan benang menjadi rapat dan padat. Alat ini harus diletakkan secara hati-hati dan bagian yang runcing tidak boleh jadi bawah apalagi menyentuh tanah, jiga tidak demikian maka dipercaya akan banyak benang yang putus. 8) Suri Alat ini terbuat dari irisan bambu yang sangat halus dan di susun rapi hingga berbentuk sisir panjang berbingkai pada kedua sisinya, yang berfungsi untuk: - untuk mengukur jarak benang secara merata - untuk menentukan lebarnya tenunan - untuk mempermudah keluar masuknya teropong. Menurut kepercayaan masyarakat setempat alat ini kalo dilangkahi bisa menyebabkan penyakit mata ( rabun). 9) Pelting Alat ini terbuat dari bambu berbentuk bulat lonjong yang panjangnya 30 cm dan diameternya 0,7 cm. Jika sudah penuh dengan gulungan benang bentuknya mirip seperti sate. Berfungsi sebagai tempat menggulung benang yang siap diperoses menjadi sebuah kain. 10) Teropong Alat ini terbuat dari ruas ujung bambu yang kecil, bagian atasnya memiliki lubang dan pecah-pecah. Fungsinya untuk memasukkan pelting yang sudah digulungi benang agar mudah mendorong benang dari kiri ke kanan. 11) Penggolong Alat ini terbentuk dari bambu yang kuat dan berbentuk bulat panjang, fungsinya untuk membatasi benang atas dan benang bawah (persilangan), untuk menggesek benang yang merekat pada desain, untuk membuat kain tenun menjadi seimbang ketika sedang memperoses kain tenun.alat ini tidak boleh dilangkahi karena dipercaya bisa meyebabkan penyakit kencing kunig. 12) Benang Gurun Alat ini digunakan untuk mengikat benang- benang yang sudah di desain agar tidak mudah lepas, alat ini juga berfungsi membuat motif pada kain tenun. Pada tahap ini tutor mengarahkan warga belajar untuk membaca dan menulis alat-alat tenun yang dibutuhkan di dalam melaksanakan keterampilan kerajina tenun tradisional sasak. Satu persatu warga belajar disuruh menulis dan membaca peralaatan tenun yang butuhkan sampai lancer dan pasih. Pembelajaran berikutnya adalah memilih Jenis benang yang berkuwalitas. Hal ini tergantung selera pengerajin karena harga benang tersebut berpariasi sesuai dengan kualitas benang. Adapun jenis benang yang biasa digunakan pengrajin adalah sebagai berikut: No Nama/Merek Benang Harga ( RP) Keterangan 1 Kuda Singa 1.700/grenten 2 Kuda dua 1.500/grenten 3 Kuda Satu 1.250/grenten 4 Benang beren 20.000/Pak 5 Benang Mesin 8.500/Pak Dari beberapa jenis benang di atas yang biasa digunakan oleh pengraji adalah benang merek kuda singa yang kualitasnya tidak meragukan dan tidak mudah luntur, sedangkan kalau ingin hasilnya agak keras sedikit yang digunakan adalah benang mesin dan bahan untuk selimut benang yang digunakan biasanya benang beren. Adapun kebutuhan benang dan jenis kain yang dihasilkan oleh pengrajin adalah sebagai berikut : No Nama Kain/motif Jumlah benang yang di habiskan Kegunaan Ket 1 Kain Biasa 32 grenten Untuk sarung 2 Songket 32 grenten Untuk baju/sarung 3 Sarimenanti 36 grenten Untuk Baju 4 Seleng 5 grenten Untuk hiasan 5 Sujadah/Taplak meja 7 Gerenten Untuk sujadah atau taplak meja 6 Selimut Beren 4 pak Untuk sekimut 7 Dodot 34 grenten Untuk Upaca adat 8 Bereket ( Pucuk Rebung 34 Gerenten Untuk sarung Pada tahap ini tutor mengajak warga belajar untuk berdiskusi kelompok untuk menghitung sendiri kebutuhan dan harga benang yang dibutuhkan di dalam membuat satu lembar kain. Dengan bantuan tutor dan warga belajar yang sudah bisa warga belajar menghitung dengan sistem penjumlah, pengurangan dan perkalian bersusun. Dengan demikian warga belajar cepat paham dan mengeti mengenai kebutuhan dan biaya produksi yang akan dilaksanakan di dalam mengejakan keterampilan tenun tradisional. Pada tahap pembelajaran berikutnya adalah melakukan pewarnaan. Masalah pewarnaan benang tergantung dari jenis pesanan dan kebutuahan selera pengrajin. Pewarnaan ada yang alami yaitu pewarnaan yang dibuat oleh pengrajin sendiri dari bahan tubuh-tubuhan dan kulit kayu yang ada di sekitar. Ada juga warna yang sudah jadi dari pabrik tinggal pengrajin mengkombinasikan sendiri tergantung dari motif ( ragi ) yang akan dibuat serta di cocokkan dengan perpaduan dan keombinasi warna benang supaya kelihatan manis dan serasi. Di sini warga belajar kami biasanya mengolah benang yang sudah diberikan pewarnaan dari pabrik sedangkan warna alami jarang di buat, apabila ada pesana seperti pesanan dari luar negeri. Warna dasar yang sering dipakai adalah biru tua, hijau tua, coklat copy, ungu, merah tua, jingga dll. Sedangakan kombinasi ( pakan ) : kuning telur, merah muda, hijau tua, fing, krem dll. Secara garis besarnya motif dan kombinasi warna yang biasa di buat oleh pengrajian adalah sebagai berikut : No Jenis Kain Motif (ragi) Perpaduan Warna Warna Dasar Kombinasi ( Pakan ) 1 Kain Biasa Ragi samarinda Coklat, krem Coklat, krem Ragi ukur Hitam, merah hati Jingga dan ungu Ragi kelayu Hitam, jingga, putih Hitam, jingga, putih Ragi dayu Merah, jingga Hijau, ungu Ragi montor Polos tergantung selera Tergantung warna dasar Ragi bagak hijau Bitu, merah muda, hijau muda Biru Ragi sempeda Ungu, jingga Ungu, jingga 2 Songket Ragi bayan Merah muda, fing Merah muda,fing Ragi sunda Biru/jingga/hitam, dll Biru/jingga/hitam,dll. Ragi timor Ungu/biru/jingga, hitam dll Ungu/biru/jingga/hitam dll 3 Sarimenanti Sarimenanti Tergantung selera dan pesanan Tergantung wrna dasar 4 Selendang Selendang Tergantung selera dan pesanan Tergantung wrna dasar 5 Sujadah dan taplak meja Kembang mudi Bentuk kupu-kupu dan bentuk kubah Tergantung selera dan pesanan Tergantung wrna dasar 6 Bereket Pucuk Rebung Jingga Hijau tua Biru tua Merah muda Putih Biru Coklat. dll Biru tua. dll Sarung biasa ( pejet manuk ) Merah muda dan jingga Merah muda dan jingga 7 Selimut Dodot Hijau, kuning Hijau, kuning Benang lima Merah muda Merah muda Benang enam Jingga Jingga Kembang teleng Merah muda Merah muda Beren Tergantung selera Sama dengan warna dasar Pada tahap pewarnaan tutor memulai pembelajaran dengan memperkenalkan macam-macam warna dan teknik-teknik pewarnaan, warga belajar disuruh menulis macam-macam warna, kemudian memadukannya sesuai dengan motif (ragi) yang akan dibuat oleh waarga belajar. Dalam hal ini motf (ragi) tergantung dari selera dan pesanan yang dikerjakan warga belajar. Tahap pembelajaran berikutnya mengerjakan kaian tenun tradisional sasak. Dimulai dari menintal benang ( Rane), begontong, sampai dengan menenun. Sebelun benang diolah menjadi selembar kain, terlebih dahulu ditentukan motif ( ragi ) yang akan dibuat. Hal ini tergantung dari selera pengrajin atau pesanan. Waktu rata-rata untuk mengejkanan satu lembar kain adalah 2 minggu . Untuk mengetahui lebih jelas tentang proses pembuatan kain tenun tradisional sasak adalah sebagai berikut : 1. Memuyun (merol benang) Memuyun adalah suatu cara untuk merol benang pada sebuah alat yang disebut kanjian (lihat fungsi kanjian), tujuannya adalah untuk mempermudah para pendesain motif untuk mengatur benang pada saat berane (mendesain motif). 2. Berane (mendesain motif) Rane adalah langkah kedua setelah memuyun, dalam hal ini diperlukan orang-orang yang terampil dan seni, sebab disinilah tempat mengatur: - Panjang lebarnya kain tenun - Serasi tidaknya warna benang - Mudah sulitnya mendesain gambar - Pemberian nama setiap kain - Tinkat/kelas dari masing-masing kain. 3. Nusuk suri Nusuk suri ini dibutuhkan alat yang disebut suri dan pengait benang bulu landak atau bisa juga dari sendok makan yang tangkainya tipis. Dalam menyusuk suri dibutuhkan ketelitian dan ketekunan agar benang bisa di masukkan satu persatu dan tidak salah dengan penyesuaian motifnya. 4. Begulung Dalam proses ini diperlukan dua orang pekerja bekerjasama dalam meyelesaikan tugas ini, pekerja 1 berrtugas mengencengkan tarikan gulungan, sedangkan pekerja 2 bertugas menggulung dan mengatur rapi benang hasil ranean pada sebuah tutukan ( lihat fungsi tutukan), jika gulungan sudah selesai, maka proses menenun siap akan dilakukan. 5. Menenun Setelah melalui proses persiapan bahan, persiapan alat hingga pengolahan bahan yang begitu panjang, maka tibalah waktunya untuk menenun. Menenun adalah menbuat kain dari helai ke helai benag denagn cara memasukkan benag satu persatu secara berurutan kemudian ditekan begitu seterusnya, hingga menjadi sebuah lembaran kain yang panjangnya maksimal 5 meter dan lebarnya maksimal 70 cm. Lamanya kegiatan berlangsung satu lembar kain membutuhkan dua minggu mulai dari pemilihan benang yang bagus, kemudian melakukan pembilasan benang dengan menggunakan air ketan, setelah itu benang di gontong. Setelah benang semuanya tergontong baru di rene, kemudian benang dimasukkan dalam suri selanjutnya di gulung dan benang siap untuk di tenun. Berikut di sampaikan tabel waktu pelaksanaan kegiatan di hitung perorang adalah sebagai berikut : NO Jenis Kegiatan Lama kegiatan Keterangan 1 2 3 4 Pemilihan kualitas benang dan menggontong benang Rane, susuk suri Begulung Nenun ( nyesek ) 2 hari 1 hari 1 hari 10 Hari Jumlah 14 Hari Tahap mengejakan tenun tradisional adalah merupakan tahapan akhir, disini tutor menerapkan metode latihan dan praktik langsung dilapangan. Dinama pada tahap ini warga belajar langsung merapkan hasil pembelajaran yang diperoleh, seperti membaca merek benang yang akan dibeli, mengitung biaya produksi dan lain-lainnya. Tutor mengelompokkan warga belajar sesuai dengan tingkat pemehaman warga belajar. Warga belajar yang belum mahir akan dibimbing sama temannya yang sudah mahir, dalam hal ini tutor menerapkan sistim salang mengisi antara warga belajar dan warga belajar lainnya, warga belajar dan tutor, dengan demikian selalu terjadi intraksi dalam proses pembelajaran. Pemasaran hasil produksi akan dilaksanakan oleh warga belajar sendiri dan juga di lakukan lewat Art shop atau melalui pesanan langsung baik berupa perorangan maupun berupa partai besar. Karena pemasaran ini juga masih menjadi suatu kendala bagi kami, maka kami mohon bantuan semuan intansi terkait yang peduli akan hal ini guna untuk membantu kami di dalam menangani pemasaran tersebut agar kegiatan ini tetap berlangsung secara berkesimabungan dan terus menerus. Dengan demikian para warga belajar kami akan menjadi bergairah adan modal yang dimiliki tetap berkembang sehingga para warga belajar dapat menambah biaya kebutuhan hidup mereka tiap hari terpenuhi. Karena semua pengrajin kami tarap kehidupannya di bawah standar atau keluarga miskin, maka hasil produksi mereka dipergunakan untuk membantu penghasilan keluaga di dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan selain itu juga untuk membiayai biaya pendidikan anak-anak mereka sehingga penghasilan mereka sedikit demi sedikit akan tertanggulangi, dan mata pencaharian mereka akan meningkat dalam arti mereka tetap berkerja atau tidak menganggur Dengan demikian dapat kami simpulkan bahwa untuk mengikuti kegiatan keterampilan ini, membutuhkan perhatian yang sangat ektra didalam membina warga belajar sehingga mereka dapat menciptakan lapangan kerja yang sangat di harapkan dan menjadi dambaan keluarga mereka. Hal ini kita harus memberikan motivasi belajar yang kuat, agar pekerjaan keterampilan ini benar-benar ditekuni dan keaktifan peserta dapat di tingkatkan. C. Tingkat Keberhasilan Metode latihan dan Praktik pada Usaha Kerajinan Tenun Tradisional pada Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) Setiap individu mengiginkan kehidupannya selalu meningkat. Hari ini diharapkan lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. salah satu upanya meningkatkan kehidupan adalah melalui usaha. Ada tiga komponen utama yang perlu diperhatikan untuk memulai suatu usaha : 1. Tujuan hidup Setiap orang sesungguhnya memiliki tujuan hidup atau cita-cita, walau pin sering kali tidak dapat menyatakannya dengan jelas. Hal ini dikarenakan tujuan hidup biasanya dikaotkan dengan suatu asfirasi yang besar, misalnya igin mencaji pengusaha, pedangan dan laon sebagainya. 2. Keterampilan yang menunjang pencapaian tujuan Untuk meningkatkan diri, individu perlu mengetahui keterampilan-keterampilan apa yang dipuyai untuk menunjang keberhasilan dimasa datang. Dalam hal ini perlu diidentifikasi secara cermat tentang keterampilan, kemampuan, bakat yang menonjol yang dirasa sagat berharga. 3. Karaktristik pribadi (yang mencakup cirri sifat dan minat) dan keinginan pribadi yang ingin dipenuhi. Dengan mengetahui komponen ini, individu akan lebih tahu kemana akan melangkah. Karaktristik yang kuat, lingkungan yang mendukung, ketrampilan-keterampilan yang siap digunakan, situasi yang mendukung akan merupakan suatu kombinasi yang dapat menimbulkan semangat yang tinggi dalam mencapai tujuan yang telah dicanagkan. Pengembangan kewirausahan perlu dikembangkan kepada warga belajar, karena dengan pengembangan kewirausahaan ini mereka diharapkan berperan sebagai : a. Pendukung lajunya pembagunan bangsa baik secara fisik maupun non fisik. b. Warga belajar dapat berperan sebagai penggerank/motifator dan bertanggung jawab terhadap inovasi dalam menjalankan kewirausahaan baik yang berbasis pengetahuan, tehnologi maupun seni. c. Suri tauladan sebagai praktisi dibidang kewirausahaan yang memiliki kemandirian dan kemampuan aktualisasi diri, karena selama ini masyarakat kita masih banyaak berorientasi aktualisasi optimal adalah sebagai pegawai atau buruh dari suatu institusi tertentu. d. Sebagai warga belajar dengan demikian adalah insan tangguh yang menciptakan lapangan pekerjaan dan mencetak wirausaha-wirausaha baru. Memulai usaha adalah sebuah fitrah manusia yang bersumber dari keiinginan dasar mendapat perubahan yang positif bagi diri dan lingkungan terdekatnya. Sebagaimana anak kecil yang memulai langkahnya, maka yang mendorong pertama adalah naluri kemudian penangkap terhadap pengaruh lingkungan (interest and attention), berkembang menjadi pengalaman yang nyaman bagi dirinya (desire) sehingga terus berkembang (action) dan survive. Belajar pertama kali untuk dapat berjalan pastilah tidak mudah, dengan bantuan dan dorongan luar sekalipun. Sebelum memutuskan untuk memulai usaha, ada empat hal yang perlu diperhatikan agar dapat mengembangkan usaha yaitu : 1. Start. Memulai usaha apapun bentuknya selalu beresiko gagal, kesulitan dana, dan sebagainya. Agar sukses diperlukan waktu, kesabaran dan kesiapan. 2. Simple. “saya belum punya uang, belum berpengalaman, belum punya tempat,” Ungkapan itu sering terjadi alas an untuk menunda sebuah usaha. Untuk memulai usaha tidak perlu sampai semuanya ada. Manfaatkan yang ada dan lengkapi sambil berjalan. 3. Self. Memulai usaha seringkali perlu bantuan orang lain, seperti dari keluarga, teman atau bank. Sebelum mendapat dukungan orang lain, harus memulai dari diri sendiri. Dimulai dari kenyakinan akan kesuksesan yang akan diraih. Bila sudah yakin dengan diri sendiri, maka akan mudah menyakinkan orang lain. 4. Satisfy. Modal yang menjadi motor penggeraak abadi dari sebuah usaha adalah rasa senang. Menyenangi bisnis yang membuat tidak mudah menyerah ketika harus menghadapi beragam persoalan. Jika sudah masuk dalam lapangan cinta pada sebuah usaha masalaah apapun tidak akan mematahkan semangat untuk terus berjuanga meraihnya sampai sukses. 5. Memuli menentukan pilihan bidang usaha berarti memberdayakan segenap potensi diri, kemampuan bakat, minat dan talenta yang dimiliki. Memulai usaha baik yang bergerak dibidang jasa maupun barang harus dapat dikaitkan dengan kebutuhan pasar yang nyata. Untuk meminimalisir start yang gagal maka ssikap mental positif diperlukan kemudian analisis terhadap kebutuhan pasar mengikuti dibelakangnya. Keduannya merupakan paket yang tidak bisa dipisahkan. Untuk mengembangkan usaha pola piker dalam analisis kebutuhan pasar tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua sisi yaitu : a. Berpikir dari hulu, dengan menganalisa kecendarungan kebutuhan masyarakat yang kan terjadi, bersifat futuristic melalui kenyakinan yang rasional. b. Berpikir dari hilir, dengan menganalisa tingkat kompetitif yang ada dilingkungannya daan menilai peluang keberhasilan. Keduanya memerlukan kemampuan berempati, menyadari perasaan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain. Jika gegabah memulai usaha dengan tidaak memperhatikan hal tersebut maka kemungkinan besar akan merugi dengan hilangnya waktu dan kesempatan, dan bisa jadi ditambah kerugian karena faktor. Dengan demikian bisa dikatakan usaha yang dimulai adalah memproduksi “sampah”, tidak bernilai, kalau terjual kurang layak sebagai mana dilemma sampah. Dengan demikian kesulitan pertama yang dihadapi seorang wirausaha baru adalah mendapatkan peluang usaha yang cocok, yang sesuai dengan situasi dirinya, atau mendapatkan ide-ide yang dapat dikembangkan menjadi suatu usaha nyata. Ada dua hal yang penting perlu diperhatikan untuk pertimbangan seseorang dalam mengembangkan usaha yaitu : 2. Kecakapan pribadi. Kecakapan pribadi menyangkut soal bagaimana mengelola diri sendiri. Terdapat tiga unsure yang terpenting untuk menilai kecakapan pribadi seseorang adalah : pertama, kesadaran diri. Ini menyangkut kemampuan mengenai emosi diri sendiri dan efeknya, mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri, dan kenyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri atau percaya diri. Kedua, penguatan diri, ini menyakut mengenai kemampuan mengelola emosi-emosi dan desakan-desakan yang merusak, memelihara norma kejujuran daan integritas, bertanggung jawab atas kinerja pribadi, keluesan dalam menghadapai perubahan, dan mudah menerima atau terbuka terhadap gagasan, pendekatan dan informasi-informasi baru. Dan ketiga, motivasi. Ini menyangkut dorongan prestasi untuk menjadi lebih baik, komitmen, inisiatif, untuk memanfaatkan kesempatan, dan optimism dalam menghadapi halangan dan kegagalan. 3. Kecakapan sosial. Kecakapan sosial menyangkut soal bagaimana kita menanganai hubungan. Dua unsur terpenting untuk menilai kecakapan social seseorang adalah : pertama, empat, ini menyangkut kemampuan untuk memahami orang lain. Juga kemampuan mengantisifasi, mengenali, dan berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan. Menenai Keragaman ,dalaam membina pergaulan, mengembangkan orang lain kemampuan membaca arus-arus emosi adalah kelompok dan hubungannya dengan kekuasaan, juga tercakup didalamnya. Kedua, Keterampilan sosial. Termasuk dalam hal ini adalah taktik-taktik untuk menyakinkan orang lain (persuasi), berkomunikasi secara jelas dan menyakinkan, membangkitkan inspirasi dan memandu kelompok, mulai dari mengelola perubahan, bernegosiasi dan mengatasi silang pendapat, bekerjasama untuk tujuan bersama, dan menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan kepentingan bersama. Pengembangan usahan kerajinan Industri tenun tradisional sasak yang dilakukan oleh warga belajar KUM yang kami bina menggunakan benang dan bunga kelapa, kayu dan tumbuhan, sebagai bahan baku, dengan ketentuan bahan baku benang digunakan untuk membuat kain tenun, selempang, selimut dan lain-lain, sedangkan manggar (bunga Kelapa) untuk membuat aksesoris rumah tangga seperti: taplak meja, korden, lukisan.dan lain-lain. Kayu biasa digunakan sebagai bahan pewarna alam misalnya : kayu nagka, kayu duku, kayu kopi,dll, sedangkan bahan dari tumbuhan seperti : daun pace, daun palem, daun tarum, kunyit.dan lain-lain. Suatu kegiatan industri tidak tumbuh dengan sendirinya melainkan diusahakan dan dikembangkan oleh manusia melalui proses yang lumayan tergolong panjang dan berkelanjutan, untuk itu diperlukan beberapa faktor produksi. Berikut ini akan dibahas tentang faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses produksi adalah sebagai berikut: a. Bahan Baku / Bahan Mentah Bahan baku adalah bahan mentah yang diolah atau tidak diolah yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana produksi dalam industri. Sedangkan bahan mentah adalah semua bahan yang didapat dari sumber daya alam dan atau diperoleh dari usaha manusia untuk dimanfaatkan lebih lanjut. Bahan baku dalam perindustrian patung tenun tradisional sasak ini adalah benang, bunga kelapa, kayu.dan lain-lain. Bahan baku adalah salah satu unsur penting yang sangat mempengaruhi kegiatan produksi suatu industri. Tanpa bahan baku yang cukup maka proses produsi dapat terhambat dan bahkan terhenti. b. Modal Modal adalah kekayaan yang menjadi hak pemilik perusahaan yang dapat dibedakan atas modal tetap dan modal tidak tetap. Modal merupakan faktor yang menentukan skala usaha suatu produksi.dalam pengertia paktor produksi ini modal yang dimaksud adalah modal rill atau semua barang hasil produksi yang diunakan untuk produksi lebih lanjut atau sering disebut juga barang modal atau barang investasi.Lain halnya dengan modal dalam pengertian umum yaitu uang atau dana yang diinvestasukan dalm suatu usaha. Pada umumnya modal yang digunakan dalam usaha tenun tradisional sasak ini masih bersifat relatif, disamping memiliki modal sendiri juga modal dari orang lain. Modal usaha yang digunakan terdiri dari modal tetap yaitu berupa alat-alat menenun dan modal lancar yang berupa input atau masukan yang habis dipaki yang dinyatakan dalam uang. c. Tenaga Kerja Tenaga kerja merupakan faktor yang sangat penting dalam proses produksi. tenaga kerja dibedakan menjadi dua yaitu tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung. Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang terlibat secara langsung dalam proses produksi guna menghasilkan suatu produk. Sedangkan tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja yang tidak terlibat secara langsung dalam proses produksi. Dalam industri tenun tradisional sasak ini tenaga kerja dalam menghasilkan barang produksinya tidak tergantung dari mesin-mesin produksi, yang dibutuhkan hanyalah ketekunan dan keterampilan, pada umumnya yang bekerja di bidang tenun ini berasal dari anggota rumah tangga sendiri karena pekerjaan ini merupakan pekerjaan turun-temurun. d. Pemasaran Pemasaran yang lancar akan memberikan banyak keuntunagan dalam suatu usaha. Pada dasarnya tujuan pemasaran adalah untuk menjual produk yang dihasilkan dalam proses produksi sehingga memperoleh pendapatan.pendapatan yang diperoleh digunakan unuk menutup biaya produksi dan sisanya merupakan keuntungan atau laba bagi suatu usaha atau suatu industri. Keuntunagn atau laba yang diperoleh akan digunakan untuk memperlancar usahanya atau tujuan utamanya yaitu untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. sistem pemasaran dilakukan baik secara langsung atau tidak langsung yaitu melalui perantara atau calo dan biasanya melalui Art Shop-Art Shop terdekat. Setalah melakukan pembelajaran dengan menerapkan motede latihan dan peraktik pada pengembangau usaha keajinan tenun tradisional sasak pada warga belajar KUM di PKBM Smumas Pringgasela yang terdiri dari 20 orang (2 kelompok) hasilnya sangat efektif dengan tingkat keberhasilan sanmelakukan aktivitas ekonomi dengan cara mendirigat signifikaan. Hal ini terbukti dengan warga belajar sudah membentuk usaha sendiri, dengan mendirikan kelompok usaha tenun yang dikelola secara bersama-sama oleh warga belajar. Tentunya hal ini terlaksanaa karena adanya faktor-faktor produksi sperti bahan baku, modal, tenaga kerja, dan pemasaran. Berjalannya suatu industri juga tidak terlepas dari faktor-faktor yang menghambat. Penghambat tersebut anatar lain: bahan baku mahal dan kesulitas dalm memperoleh zat pewarna alam, modal yang digunakan relatif kecil, pemasaran yang masih terbatas dan merasa kesulitan. Dalam hal pemesaran tutor berupaya membatu warga belajar mencarikan peluang dan pangsa pasar dengan menghubungkan ke berbagai mitra yang membutuhkan hasil prodauk warga belajar. Adanya faktor-faktor tersebut tersebut tentunya menjadi tantangan bagi warga belajar tentang bagaimana mensiasati agar aktivitas industri terus dapat berjalan yang akhirnya nanti akan berpengaruh pada pemasaran hasil kerajinan dan perkembangan industri tenun tradisional sasak. Sekarang ini PKBM Smumas Pringgasela tersedia hasil kerajinan warga belajar KUM yitu kain tenun tradisional sasak khas Lombok, serta kita bisa melihat langsung proses pembuatan kerajinan tersebut yang di kerjakan langsung oleh warga belajar KUM. Lokasinya berjarak 20 Km dari kota selong (kota kabupaten) dan 45 Km dari Mataram sebagi pusat provinsi. Desa ini sangat menarik untuk dikunjungi karena kegiatan sehari-hari masyarakat di desa ini telah menenun. Ciri khas tenunan dari desa Pringgasela ini adalah tenunannya memakai benang emas, desa ini dikenal menjadi salah satu objek wisata yang baik dikunjungi oleh para tanun nusantara maupun mancanegara. Disepanjang jalan desa ini banyak toko-toko yang menjual kain tenun dari desa setempat maupun desa sekitarnya. Para wanita di desa dengan pakaian adat sasak selalu siap mendemonstrasikan keterampilan mereka, kain songket di desa Pringgasela masih dibuat secara tradisional ,klasik alias cara jaman dulu kala, disamping untuk menjaga adat istiadat juga sebagai daya tarik para wisatawan. Hasil tenun di warga belajar di PKBM Smumas Pringgasela sangat beraneka ragam sekali baik jenis maupun modelnya, hasil tenun tersebut dapat berupa: 1) Kain yang terdiri atas : kain seri menanti, songket, pucuk rebung, endeq, ragi bayan, ragi sunda, ragi timor-timor, samarinda ragi salak, ragi poleng, ragi tasak, babak putih, sonket subhanale dan lain-lain. 2) Selimut dari bahan benang dan bahan alam. 3) Aksesoris rumah tangga seperti : taplak meja, korden, sarung bantal, lukisan.dan lain-lain. 4) Berbagai macam selendang atau yang lebih dikenal dengan nama syal, biasanya selendang atau syal ini mengikuti motif kain yang ada kecuali kalo pembeli memesan secara khusus. Pringgasela adalah salah satu desa yang ada di wilayah Propinsi Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Lombok Timur Kecamatan Pringgasela. Desa ini terkenal sebagai desa souvenir dengan kerajinan tenun tradisional gedogan dengan motip-motip khas sasak yang lazim disebut songket lombok. Kerajinan tenun Tradisional gedogan ini adalah kerajinan turun – temurun sejak nenek moyang desa ini ada. Dengan rakitan balok-balok kayu yang dibuat sedemikian rupa sehingga terbentuklah alat tenun sederhana yang sekarang disebut “ Alat Tenun Gedogan “. Dengan alat tenun sederhana ini para pengrajin mampu meramu bahan alami untuk merajut helai-demi helai benang menjadi selembar kain. Di desa Pringgasela Kurang lebih 1627 orang pengrajin tenun. Mereka dengan tekun meneruskan warisan nenek moyang sebagai pekerjaan sambilan untuk mengisi waktu luang sehabis kerja di sawah. Mayoritas para pengrajin tenun ini adalah ibu-ibu sebagai suatu kegiatan home industri untuk membantu penghasilan suami. Termasuk juga warga belajar KUM yang kami bina yang juga aktif belajar keterampilan tenun ini. Dengan demikian dari hasil belajar warga belajar dengan penerapan metode latihan dan praktik hasil dan manfaatnya dapat dirasakan di lapangan sangat besar sekali diantaranya a. Meningkatkan kemampuan warga belajar KUM dan warga belajar sekitarnya dalam mengelola sumber daya alam yang ada untuk peningkatan kesejahteraan keluarganya. b. Meningkatkan kwalitas hidup warga belajar KUM c. Melestarikan keterampilan nenek moyang sebagai suatu aset budaya lokal dan budaya bangsa. d. Sebagai wadah pengembangan usaha kerajinan tenun guna untuk mengurangi pengangguran. e. Memberdayakan kaum ibu dengan misi gender. f. Menambah penghasilan keluarga sebagai suatu kegiatan memenuhi kebutuhan hidup. g. Membangun dan memperkuat usaha kerajinan tenun trandisional lewat jaringan kelompok belajar KUM yang telah dibentuk h. Membantu Warga belajar KUM mencari terobosan baru dalam permodalan sehingga warga belajar tidak kesulitan dalam memasarkan hasil produksinya dengan membuat mitra atau stekholder yang bersedia berkerjasama. i. Warga belajar dapat membuat jenis motif ( ragi ) yang akan di buat diantaranya bermacam-macam berupa kain biasa, kain songket, kain sarimenanti, selendang, sujadah atau taplak meja, selimut dodot dan lain-lain. BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dara uraian diatas dapat di tarik kesimpulkan bahwa penerapan metode latihan dan peraktik pada pembelajaran usaha kerajinan tenun tradisional sasak pada warga belajar KUM di PKBM Smumas Pringgasela, sangat efektif guna untuk meningkatkan semangat dan minat belajar usaha kerajinan tenun tradisional, dan dapat menunjang tarap hidup warga belajar, dan menanggulangi segala pemasalahan dan kekurangan yang ada di dalam anggota keluarga, serta memperkuat jaringan nitra dan kerjasama kelompok usaha kerajinan tenun tradisional pada warga belajar KUM, sehingga terciptalah sebuah usaha dan lapangan kerja yang kreatif dan inovatif yang berkembang di masyarakat sekitar tempat belajar warba belajar KUM. B. Saran Keberadaan warga belajar sebagai kelompok pengrajin tenun sangatlah penting sekali di tengah-tengah masyarakat guna membantu masyarakat untuk di dalam pengembangan usaha dan keterampilan warga belajar KUM, diharapkan kepada semua pihak yang terkait, agar mendukung dan membantu kami dalam mencarikan terobosan baru dalam pemasaran produk yang dihasilkan oleh warga belajar sehingga usaha kerajinan dan keterampilan warga belajar tetap eksis seperti dukunngan berupa permodalan dan dukuangan tenaga ahli, guna untuk meningkatkan layanan pendidikan dan usaha bagi warga belajar KUM. Kepada warga belajar agar menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan usaha kelompok pengrajin tergantung dari bagaimana warga belajar memanfaatkan dan memberdayakan kelompoknya dengan sebaik-baiknya sehingga nantinya usaha kelompok yang di jalankan berhasil sesuai dengan apa yang diharapkan sehingga tarap hidup anggota kelompok bisa terangkat. Kepada semua pembaca, karena mengingat tulisan ini jauh dari kesempurnaan, segala sumbang saran dan krikitik yang bersifat konstruktif (membangun) penulis terima dengan tangan terbuka. Semoga yang maha kuasa memberkati usaha kita semua dan atas bantuannya kami haturkan terima kasih
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. puisi kado ulang tahun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger